#2020 : It's a Wrap!

#2020wrapped


It's 2021, now! A new year, new me!

Tahun 2020 sudah berlalu. Tentunya, banyak hal serba terbatas di 2020 karena munculnya pandemi Covid-19. Tapi, masa-masa pandemi ini akhirnya bisa kita lalui bersama-sama dalam waktu 11 bulan. Layaknya sebuah perjalanan, pada postingan kali ini aku ingin tetap merasa bersyukur atas apa yang sudah aku lewati di 2020. So, here's the most favorite things I got in 2020.

***

My Favorite Self-Improvement Book

Outliers - Malcolm Gladwell

Masa-masa selesai pengerjaan Tugas Akhir agak sedikit melegakan. Tapi, aku tahu, ada fase baru yang harus aku hadapi. Kebetulan, karena kelulusan yudisium menyaratkan calon alumni untuk menyumbang buku, aku pun membeli buku Outliers ini di Gramedia.

Namun, aku baru tahu kalau buku ini bukan terbitan tahun 2020 atau 2019. Jadilah aku membeli buku baru untuk disumbangkan ke kampus dan buku Outliers ini aku bawa pulang untuk dibaca sendiri.

The Power of Clan
The Power of Clan (Book Depository)


Outliers dibuka dengan pembukaan yang berdasarkan riset bahwa kebahagiaan seseorang tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Begitu juga kesuksesan. Dalam beberapa kasus, tanggal lahir bisa merupakan faktor utama, seperti perekrutan anggota tim hokcey yang memilih anak-anak dengan tanggal lahir termuda untuk dilatih.

Kaidah 10.000 jam Malcolm Gladwell
Kaidah 10.000 jam (SlideShare)


Selain umur, lamanya waktu seseorang mempelajari hal baru juga bisa menjadi faktor kesuksesan. Malcolm Gladwell mengangkat kisah Bill Joy, Bill Gates, hingga The Beatles pada bab Kaidah 10.000 Jam. Para tokoh sukses tersebut apabila dihitung waktu untuk mempelajari bidang mereka masing-masing adalah sekitar 10.000 jam atau setara dengan 18 - 20 tahun.

Dari buku ini, aku jadi belajar bahwa aku harus terus banyak mencoba dan fokus pada hal yang aku minati. Akan ada makna lebih dalam tentang memahami kesuksesan dair buku ini. Review dari buku Outliers karya Malcolm Gladwell aku tuliskan di sini.


Kafka on the Shore by Haruki Murakami
Kafka on the Shore by Haruki Murakami

Novel ini merupakan salah satu novel yang dibaca oleh ketua idol grup Korea yaitu RM (Rap Monster), BTS. RM dikenal sebagai orang yang suka membaca buku. Maka, suatu hari, aku mencoba melihat daftar buku-buku yang pernah dibaca RM dan salah satu judul yang menarik perhatianku adalah Kafka on the Shore.

Versions of Kafka on the Shore
Versi Kafka on the Shore


Kafka on the Shore merupakan novel fiksi yang berhasil membuatku tak habis pikir ketika membacanya. Secara singkat, Kafka on the Shore menceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama Kafka Tamura yang merencanakan kabur dari rumah karena ia tidak suka tinggal bersama ayah kandungnya.

Kafka saat itu berusia lima belas tahun. Ia seperti memiliki bayangan dalam dirinya yang suka membisikkan hal-hal tak terduga. Salah satunya seperti aksi kabur dari rumah. Kafka akhirnya benar-benar kabur dari rumahnya yang berada di Tokyo ke suatu daerah kecil bernama Takamatsu.

Sepanjang perjalanan, Kafka bertemu dengan orang-orang baru yang menciptakan kisah baru dalam hidupnya. Saat di Takamatsu, Kafka tinggal di sebuah private library bernama Komura Memorial Library atas saran seorang pustakawan bernama Oshima.

Dari Oshima, Kafka pun tahu bahwa Komura Library memiliki sejarah yang sangat memilukan. Kafka kemudian mengenal pemilik Komura Library bernama Miss Saeki, yang saat itu usianya sudah menginjak sekitar 50 tahun dan belum menikah. Dari Oshima juga, Kafka menjadi tahu bahwa alasan Miss Saeki belum menikah ada hubungannya dengan sejarah Komura Library.

Di sisi lain, diceritakan pula ada seorang kakek bernama Nakata. Nakata adalah kakek tua yang tidak bisa menulis, membaca, dan berhitung. Hal tersebut disebabkan oleh kejadian aneh yang menimpa dirinya saat masih duduk di bangku SD.

Nakata bekerja sebagai pencari kucing yang hilang untuk mendapatkan uang ataupun makanan. Nakata diceritakan sebagai sosok kakek yang lugu, sangat baik hati, suka menolong, dan tentunya pecinta kucing, bahkan bisa berbicara dengan kucing.

Klimaks dari cerita ini adalah ketika Nakata bertemu dengan ayah kandung Kafka dan segala pertanyaan-pertanyaan Kafka selama ini perlahan-lahan mulai terjawab. Seperti, kenapa ibunya meninggalkan Kafka ketika kecil, kenapa kakak perempuan Kafka juga ikut menjauhi Kafka, kenapa Ayah Kafka tidak pernah ambil pusing mengenai kepergian ibu dan kakak perempuan Kafka, hingga cerita tentang kepedihan hati Miss Saeki.

Latar cerita Kafka on the Shore mengambil kota-kota Jepang seperti Tokyo dan Takamatsu. Hal yang menarik adalah, setelah aku mencoba mencari-cari tentang Komura Library di Internet, ternyata Komura Library hanyalah fiksi dalam buku ini.

Kamada Museum as Representative of Komura Library
Kamada Museum (kamada-museum.jp)


Di dunia nyata, Komura Library adalah sebuah kumpulan area museum bernama Kamada Museum. Sekilas, ketika aku lihat foto Kamada Museum mirip dengan apa yang diceritakan Murakami dalam bentuk Komura Memorial Library.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/45/Kamada_benefit_society_museum_of_local_history02s5.jpg
Kamada Museum (ja.wikipedia.org)


Kafka on the Shore terdiri dari sekitar 600 halaman. Aku cukup bimbang ketika akan membacanya karena takut tidak bisa selesai kubaca dalam waktu dekat. Namun, ternyata, alur cerita yang tak terduga membuatku terus ingin membaca dan akhirnya selesai dalam waktu sebulan.

Dua minggu setelah aku membaca Kafka on the Shore, Jerome Polin meng-upload videonya bersama Waseda Boys ketika mengunjungi Takamatsu. Vlog Jerome Polin semakin membuatku paham akan relatable thing dalam Kafka on the Shore dan Shikoku di dunia nyata. Salah satunya adalah Udon yang menjadi santapan Hoshino saat menemani Nakata mencari batu ajaib.



My Favorite Podcast

Warung Copy


Warung Copy by Edwin Mohammad (Apple Podcasts)

Kalau dilihat dari Spotify #2020Wrapped, daftar podcast yang paling sering aku dengerin adalah Curhat 20-an by Mega Agnesty Anjasmoro. Tapi, podcast ini sebenernya adalah podcast pengantar tidurku. Kalau aku nggak bisa tidur, aku dengerin Curhat 20-an biar bisa tidur.




Sedangkan, podcast yang memang bener-bener aku dengerin itu podcast Warung Copy by Warung Copy (Edwin Mohammad - Lead UX Writer Blibli). Aku agak lupa sih gimana awal tahu tentang podcast Warung Copy ini. Kayanya, di akhir tahun 2019 atau awal tahun 2020, waktu itu aku lagi gabut. Terus, scroll di Spotify ketemulah Warung Copy. Waktu itu, daftar podcast di Spotify masih sedikit (seingetku).




Karena namanya unik dan aku udah menangkap nama 'Copy' di podcast ini, aku yang suka banget menulis dan ingin menghubungkan hobiku ke ranah yang profesional, langsung nge-follow Warung Copy.

Tamu-tamu yang diundang di Warung Copy pun unik-unik. Mulai dari UX Writer, travel blogger, dan yang bikin aku mind blowing, ternyata ada juga reviewer bidang aviation yang kerjanya nge-review pesawat termasuk kursi pesawat.








Dari dengerin beberapa sesi podcast Warung Copy, aku jadi paham beberapa hal mengenai dunia tulis-menulis, seperti:

  • UX Writer itu bukan penerjemah. Jadi, nggak perlu kaget kalau misal kalimat Bahasa Inggris dan Indonesia di suatu produk (aplikasi/web) itu berbeda. Karena tujuan dari UX writing ya untuk membuat pengguna paham cara menggunakan suatu produk.
  • Berikan jalan keluar ketika ada masalah dalam suatu produk. Contohnya, 'Tidak dapat mengakses Beranda. Periksa koneksi Internet Anda'.

My Favorite Song

Boy with Luv (feat Halsey) by BTS




Boy with Luv - BTS ft. Halsey
Boy with Luv - BTS ft. Halsey ( Twitter @btspublicity)




Ini salah satu hal mengejutkan buat aku. Nggak nyangka aja, ternyata Boy with Luv (feat Halsey) by BTS bisa jadi The Most Played Song-ku di 2020. Tapi, memang sih. Aku sering banget buka Spotify dan mendahului lagu Boy with Luv untuk diputar, hahaha. Suasana lagunya yang ceria bikin aku semangat untuk ngerjain suatu hal.

Here's my Spotify #2020Wrapped



My Favorite Moment

Online Graduation #DearClassof2020

Online Graduation Telkom University 2020
A scene for Online Graduation

COVID-19 hit us so hard, right? Akibat pandemi COVID-19, wisudaku pun dilakukan secara online. Alurnya, aku lulus yudisium, melakukan pembayaran wisuda, toga dikirim ke tempatku, dan ada online graduation via Zoom.

Jujur, dalam hati paling dalam, aku nggak merasa sedih karena wisudaku dilakukan secara online. Aku bersyukur karena keinginanku tahun 2019, semoga wisudaku nggak perlu panas-panasan dan chaos akhirnya terkabul. #sorrynotsorry

Perasaan sedih yang sempat mampir adalah aku pingin banget foto di Danau Galau (Danau Situ Techno) dan takut begitu toga sudah sampai, nggak ada yang bisa ngefotoin aku. Ahamdulillahnya, itu nggak terjadi.

Online Graduation Telkom University 2020



Online Graduation Telkom University 2020
Celebrate private graduation with Ayu


Begitu togaku sampai, besok lusanya Ayu nginep di tempatku. Aku pun mengajak Ayu buat foto bareng di Danau Galau. Sehari sebelumnya, aku pinjem toga ke Eca buat Ayu. Awalnya, aku cuma mau foto-foto aja bareng Ayu. Tapi, kok kayanya eman ya kalau cuma foto. Akhirnya, aku record video juga. Thank God, aku dan Ayu pun bisa bikin dokumentasi wisuda di masa pandemi Covid ini.



Wisuda online-ku disiarkan lewat YouTube kampus dan ada pertemuan Zoom antar wisudawan. Tapi, aku nggak bisa hadir Zoom saat itu karena waktunya bersamaan dengan aku kursus IELTS. Meskipun begitu, wisuda ini cukup berkesan bagi aku karena salah satu impianku tercapai, yaitu aku nggak perlu chaos, panas-panasan, dan aku sudah mendapat magang sebelum wisuda.


My Favorite Drama

Start-Up (Korean Drama)

https://m.media-amazon.com/images/M/MV5BZGEzMjMxNmItYWM2MC00MGU3LTk2YmQtYjUyOTVjYTRlZDQ3XkEyXkFqcGdeQXVyNDU4MDQ0MjM@._V1_.jpg
Start-Up (Netflix)


Start-Up merupakan salah satu Koren Drama yang bisa ditonton melalui Netflix. Sesuai dengan judulnya, drama ini menceritakan tentang Nam Do San (diperankan oleh Nam Joo Hyuk) bersama kedua temannya yaitu Lee Chul San dan Kim Yong San dalam membangun start up di bidang Artificial Intelligence bernama Samsan Tech.

Awalnya, aku belum begitu tertarik untuk menonton drama ini. Namun, setelah melihat trailer dan review dari Internet yang rata-rata mengatakan kalau drama ini bagus, aku pun mulai menontonnya. Fyi, drama ini merupakan drama pertama yang berhasil aku tonton sampai selesai (Episode 1 - Episode 16). Biasanya, ketika menonton drama Korea, aku cepat sekali bosan karena alur yang kurang menarik.

Start-Up Netflix
Pitching (Cinema Escapist)

Start-Up Netflix
Entity Relational Database (Ordinary Reviews)


Pada drama Start-Up ini aku menemukan banyak hal yang benar-benar relate dengan kehidupan start up di dunia nyata seperti istilah-istilah dalam teknologi, masa-masa inkubasi, dan contoh penggunaan dari teknologi artificial intelligence itu sendiri. Aku juga menuliskan relatable thing dari Start-Up dengan dunia nyata di Medium-ku.


My Favorite Food

Nasi Goreng Padang

Nasi Goreng Padang yang aku maksud di sini adalah Nasi Goreng Padang depan kampus. Aku tahu dari tempat ini dari Martzael dan Mei. Awalnya, aku cuma nemenin mereka makan tanpa pesen apa pun karena sekilas menunya kaya biasa aja cuman ada 'khas Padang'-nya.

Terus, aku pernah dapat jadwal praktikum pagi, sekitar jam setengah 7. Nah, aku sering diajak ke sini sama Fajar kalau asisten praktikumnya belum datang. Mulai deh aku cobain Nasi Goreng Padang. Dan... sejak itu aku mulai suka!

Nasi Goreng ini pakai bumbu rendang dan ada topping ayamnya. Kelihatannya sederhana, tapi rasanya itu bikin aku pingin nambah lagi. Awal-awal karantina, aku udah beberapa kali beli Nasi Goreng Padang karena memang seenak itu. Aku pernah beli Nasi Goreng Padang di tempat lain, dan nggak sesuai ekspektasiku yang rasanya bakalan kurang-lebih sama lah dengan yang di depan kampus. Kakakku waktu itu juga pernah nyicipin Nasi Goreng Padang depan kampus dengan di tempat lain, dan kakakku juga prefer Nasi Goreng Padang depan kampusku.

Selain menu dengan cita rasa Padang, tempat ini juga sedikit-banyak ninggalin kenangan buat aku. Dulu, aku sering makan di sini bareng temen-temen Praktikum Algoritma Pemrograman (Semester 2). Kita sering nyeritain kekeselan kita di sini, dengerin Fajar nyeritain tentang budaya dan wisata alam di Padang, terus tempat ini juga paling sering jadi pilihan tempat sarapan saat ada kelas setengah 7 pagi. So, yeah, semoga Nasi Goreng Padang ini ada terus sampai aku reuni teman kuliah nanti!

Tahu Crispy

Tahu Crispy ini juga ada di depan kampusku. Aku juga sudah coba beberapa tahu crispy di tempat lain dan belum menemukan yang seenak tahu crispy depan kampus. Tahu crispy yang dijual di depan kampus bener-bener crispy, besar-besar, dan meskipun harganya bisa dibilang agak mahal, tahu crispy bisa mejadi snack favorit temen-temenku.

Malam hari, kalau aku ada kegiatan di kampus, aku sering banget mampir beli tahu crispy. Aa'-nya jual di sore menjelang malam, jadi cocok banget dimakan bersamaan dengan cuaca Bandung yang kadang hujan dan dingin.

Saat Corona, aa'-nya udah jarang jualan. Jadi, begitu buka, aku langsung beli karena nggak tahu kapan lagi si Aa' bakal buka.

Bakso Goreng

Bakso goreng merupakan jajanan yang paling aku pesan via Gofood. Suka banget sama bakso goreng ditambah dengan bumbunya yang asin-pedas.

Tom Yam

Tom Yam Thai Palace Dago, Bandung


Tom Yam Thai Palace Dago, Bandung


Tom Yam Thai Palace Dago, Bandung


Tom Yam Homemade
Tom Yam by Me


Tom Yam aku masukkan jadi salah satu makanan favorit 2020 karena bisa menjadi makanan yang paling mengenyangkan dan menyegarkan. Thanks to Corona, aku akhirnya bisa belajar bikin Tom Yam. Jadi, nggak perlu cari dan beli Tom Yam yang autentik lagi di luar rumah.

Es Ragusa Italia



Es Ragusa aku masukin daftar favorit 2020 karena aku udah pingin banget nyoba ke-khasan es krim ini dari sekitar tahun 2018 dan baru bisa aku cicipi tepat sebulan sebelum Corona. Jadi, aku benar-benar bersyukur bisa ke tempat ini.

***

#2020Wrapped ini aku bikin untuk melihat lagi ke belakang, sebanyak apa aku mendapatkan pegalaman dan kelak bisa menjadi patokan sebagai bahan evaluasi diri. Semoga di akhir tahun 2021 nanti, aku bisa mendapatkan experience baru yang lebih berkesan. Happy new year 2021!


Comments

back to top