Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers Karya Malcolm Gladwell

Review Outliers Malcolm Gladwell Indonesia
(Sumber: Gramedia)



Outliers: Rahasia di balik Kesuksesan
Penulis: Malcolm Gladwell
Genre: Self-Improvement
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 10 Februari 2020
Jumlah Halaman: 354 halaman
ISBN: 9789792244762
Harga: Rp54.600 - Rp78.000

Peralihan dari masa kuliah menuju masa 'pencarian kerja' terasa nggak mudah bagi sebagian orang. Termasuk aku. Setelah lulus yudisium, aku mencoba untuk melamar pekerjaan kesana-kemari yang sekiranya cocok dengan bakat, minat, dan jurusan saat aku kuliah. 

Masa-masa peralihan ini tentunya nggak ingin aku biarkan dengan hanya mencari pekerjaan. Motivasi. Satu hal ini yang nggak boleh aku kendurkan. Aku nggak mau masa pencarian kerja hanya membuatku fokus mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Aku nggak mau masa transisi ini menumpulkan kemampuanku. 

Aku pun coba-coba membaca buku yang sekiranya bisa mejagaku untuk tetap konsisten. Khususnya, konsisten dalam melakukan bakatku. Buku itu berjudul Outliers karya Malcolm Gladwell. Buku dengan cover putih polos glossy dan tulisan Outliers dengan warna ungunya.

Aku membaca bagian Pendahuluan dan terkesima akan alasan Malcolm Gladwell menulis buku ini. Berikut ini kutipan dari buku Outliers yang menurutku sangat menarik mengenai perjuangan untuk menjadi orang sukses.


Pendahuluan

Stewart Wolf - Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell - Inas Muthia
Dr. Stewart G. Wolf
(Sumber: NIH)

Stewart Wolf, seorang dokter yang mempelajari ilmu pencernaan dan perut, pada tahun 1900-an melakukan penelitian mengapa orang berusia 65 tahun di Roseto jarang mengidap penyakit jantung.  Padahal, pada tahun itu serangan jantung sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penyebab utama kematian pria di bawah usia 65 tahun.

Penilaian awal Wolf adalah warga Roseto pasti menjalankan sejenis pengaturan makanan dari dunia lama yang membuat mereka lebih sehat daripada kebanyakan orang Amerika lainnya. Tetapi, dia kemudian menyadari bahwa itu adalah asumsi yang keliru.
  1. Warga Roseto memasak makanannya dengan lemak babi dan bukan dengan minyak zaitun yang lebih sehat yang mereka gunakan sewaktu hidup di Italia.
  2. Piza di Italia dibuat dalam bentuk lempengan roti tipis dengan garam, minyak, dan mungkin tomat, ikan hering kecil, atau bawang. Piza di Pennsylvania dibuat dalam bentuk lempengan roti yang tebal ditambah sosis, daging pepperoni, salami, ham, dan kadang telur.
  3. Saat Wold mendatangkan ahli diet untuk menganalisis kebiasaan makan warga Roseto, mereka menemukan bahwa 41% kalori yang mereka dapatkan berasal dari lemak.
  4. Warga Roseto pun jarang melakukan yoga dan berlari pagi sejauh enam mil di udara yang dingin secara konsisten.
  5. Warga di Pennsylvania adalah perokok berat dan banyak di antaranya yang berkutat dengan permasalahan obesitas.
Hal yang mulai disadari Wolf adalah rahasisa di Roseto bukanlah pola makan, olahraga, gen, atau lokasi.

Saat Bruhn dan Wolf berjalan-jalan di kota tersebut, mereka menemukan jawabannya. 
  1. Bruhn dan Wolf melihat bagaimana warga Roseto saling berkunjung, berhenti untuk mengobrol di jalanan,atau memasak untuk tetangganya di halaman belakang rumah.
  2. Warga Roseto mempelajari berbagai klan keluarga besar yang menjadi penopang struktur sosial kota tersebut. Mereka melihat berapa banyak rumah yang ditinggali oleh tiga generasi keluarga, dan seberapa besar rasa hormat yang didapat oleh para kakek-nenek.
  3. Warga Roseto memilih etos egaliter dalan hidup bermasyarakat, yang mendorong orang-orang kaya untuk tidak memamerkan kekayaan dan menolong orang-orang yang kurang sukses menguburkan kegagalan.

The Power of Clan - Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell - Inas Muthia
Hasil riset Wolf dan Bruhn ditulis dalam buku The Power of Clan
(Sumber: Book Depository)

Saat Bruhn dan Wolf untuk pertama kalinya mempresentasikan temuan mereka kepada komunitas kedokteran, mereka harus meyakinkan instutisi kedokteran untuk melihat kesehatan dan serangan jantung dalam cara yang sangat baru: mereka harus menyadarkan orang-orang ini bahwa mereka tidak akan mampu memahami mengapa seseorang dalam kondisi sehat jika yang mereka pikirkan hanyalah tentang berbagai pilihan dan tindakan pribadi seseorang yang tidak dihubungkan dengan masyarakat sekitarnya.

Mereka harus menghargai pemikiran bahwa nilai dari dunia yang kita diami dan orang-orang di sekeliling kita memiliki efek yang sangat besar atas siapa diri kita.



Kaidah 10.000 Jam

Pada bab ini, Malcolm Gladwell menceritakan perjuangan para orang sukses. Beberapa di antaranya adalah Bill Joy, pendiri Sun Microsystems, yaitu perusahaan terkenal yang bergerak di industri perangkat lunak, spare part komputer, dan teknologi terbarukan.

Bill Joy - Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell - Inas Muthia
Bill Joy (Sumber: QuoteTab)

Bill Joy mulai merakit perangkat lunaknya di umur 13 tahun, ketika ia mendapat kesempatan untuk mengunjungi Computer Center milik University of Michigan.

Saking tertariknya dengan komputer dan perangkat lunak, Bill Joy sampai rela menginap di ruang Computer Center, University of Michigan. Ia menghabiskan waktunya untuk mempelajari tentang perangkat lunak di sana.

"Di Michigan, saya mungkin bisa membuat program selama delapan atau sepuluh jam setiap harinya," terang Bill Joy. 

"Saat masuk Berkeley (University of Berkeley), saya melakukannya sepanjang siang dan malam. Saya memiliki sebuah komputer di rumah. Saya bisa bangun sampai pukul dua atau tiga pagi, menonton film-film lama sambil membuat program. Kadang saya tertidur di atas papan tik (keyboard). Dan kita tahu bagaimana bila tombol ditekan terus-menerus dan akan mulai berbunyi bip bip bip? Bila hal itu terjadi tiga kali, itu tanda bahwa saya harus tidur. Saya masih tidak begitu kompeten sewaktu masuk Berkeley. Saya menjadi cukup mahir di tahun kedua. Itulah saat saya menuliskan berbagai program yang masih digunakan pada hari ini, tiga puluh tahun kemudian."

Bill Joy menghitung-hitung total waktunya mempelajari perangkat lunak sejak tahun 1971 di Michigan. "Jadi, jadi mungkin... sepuluh ribu jam?" ujarnya kemudian.

Selain kisah mengenai perjuangan Bill Joy yang mempelajari software selama kurang lebih 10.000 jam sebelum kesuksesannya, di dalam bab ini juga dituliskan mengenai perjuangan The Beatles. The Beatles sempat melakukan penampilan panggung di Jerman hampir setiap malam dengan total waktu juga sekitar 10.000 jam hingga akhirnya The Beatles bisa dikenal dunia. 

Kaidah 10.000 Jam - Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell - Inas Muthia
10.000 jam
(Sumber: doris-nasution.net)

Bab ini aku baca ketika lagi suka-sukanya dengerin lagu 10.000 hours yang dinyanyiin Jungkook. Aku jadi paham lirik dari judul lagu 10.000 hours ini menyiratkan tentang seseorang yang sedang jatuh cinta dan ingin memahami perasaan pasangannya. Orang tersebut bahkan rela untuk menghabiskan waktunya selama 10.000 jam demi pasangannya. Karena dengan waktu 10.000 jam itu, ia bisa bisa 'ahli' dalam mencintai dan memahami pasangannya.




Permasalahan dengan Orang Genius, Bagian 1

Permasalahan dengan Orang Genius, Bagian 1
(Sumber: Wikimedia Commons)


Pada bab ini, Malcolm menceritakan penelitian mengenai kreativitas pada orang jenius. Di suatu kelas, diberikan sebuah batu bata untuk masing-masing anak. Kemudian, seorang anak jenius dimintai pendapat tentang fungsi batu bata tersebut. Jawabannya cukup realistis dan tidak begitu banyak. Ia menjawab dengan jawaban umum seperti: batu bata sebagai bahan bangunan, dan sebagainya. 

Setelah itu, dipanggillah satu anak yang cukup aktif di kelas dan bukan seorang juara kelas. Tapi, ia cukup imajinatif. Anak tersebut mengatakan salah satunya bahwa batu bisa digunakan untuk menyerang orang.

Maka, kesimpulannya:
  • Orang jenius tidak selamanya imajinatif
  • Orang imajinatif juga tidak selalu jenius


Permasalahan dengan Orang Jenius, Bagian 2

Perbedaan lain mengenai mengapa seseorang bisa menjadi lebih berhasil dibanding yang lain adalah dari cara seseorang menggunakan hak hidupnya. Di dalam bagian ini, hak hidup yang dimaksud adalah hak untuk berbicara dan hak untuk bertanya.

Berikut ini merupakan kutipan dari bagian "Permasalah dengan Orang Jenius, Bagian 2":
Annette Lareau - Memahami MaknaAnnette Lareau - Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell - Inas Muthia Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell
Anette Lareau (Sumber: University of Pennsylvania)

Buku hasil riset yang dilakukan oleh Anette Lareau (Sumber: University of California Press)

Anette Lareau, melakukan penelitian menakjubkan terhadap sekelompok siswa kelas tiga.

Di dalamnya terdapat anak-anak dari keluarga kaya dan miskin, sebanyak dua belas keluarga. Lareau dan timnya mengunjungi setiap keluarga sedikitnya dua puluh kali, kadang selama berjam-jam. 

Dia dan para asistennya menyuruh para subjek untuk mengikuti anak-anak ini ke gereja, pertandingan sepak bola, dan janji dengan dokter, dengan alat perekam di satu tangan dan vuku catatan di tangan lainnya.

Lareau kemudian menemukan hanya ada dua buah "falsafah" dalam menjadi orangtua dan keduanya terbagi hampir sama rata. 

Orangtua dari keluarga kaya benar-benar terlibat penuh dengan waktu bebas anak-anaknya, mereka mengantarkan anak-anaknya daru satu aktivitas ke aktivitas lainnya, bertanya tentang guru, pelatih, serta teman-temannya. 

Salah satu anak dari keluarga kaya yang diikuti oleh Lareau bermain dalam sebuah tim bisbol, dua tim sepak bola, tim renang, dan tim bola basket di musim panas, serta ikut serta dalam sebuah orkestra dan mengikuti les piano.

Jadwal yang intensif seperti itu hampir tidak ditemui dari kehidupan anak-anak pada keluarga miskin. Waktu bermain bagi mereka bukanlah latihan sepak bola dua kali seminggu. Waktu bermainnya adalah bermain dengan saudara-saudaranya dan anak-anak di lingkungannya. 

Salah seorang anak perempuan sari keluarga pekerja ikut panduan suara setelah jam sekolahnya. Tetapi, dia mendaftar sendiri dan berjalan ke latihan paduan suara tanpa diantar orangtuanya. Lareau mencatat:

Hal yang tidak dilakukan Mrs. Brindle, yang juga terlihat pada para ibu kelas menengah, adalah menilai ketertarikan putrinya dalam bernyanyi sebagai tanda bagi dirinya untuk mencari cara lain agar membantu putrinya mengembangkan ketertarikan itu menjadi bakat formal. 

Dan Mrs. Brindle pun tidak mendiskusikan ketertarikan Katie dalam drama, atau mengungkapkan penyesalan karena dia tidak bisa memiliki dana untuk mengembangkan bakat putrinya. Dia menilai pertunjukan yang diikuti putrinya sebagai sesuatu yang "lucu" dan cara bagi Katie untuk "mendapatkan perhatian".

Orangtua kaya sering berdiskusi dengan anak-anaknya, mencoba berunding. Mereka tidak hanya memberikan perintah. Mereka mengharapkan anak-anaknya mengungkapkan pikirannya, bernegosisasi, mempertanyakan orang dewasa yang memiliki kewenangan. 

Kalau prestasi anak-anak mereka di sekolah jelek, orangtua kaya akan mendatangi para guru. Mereka menginterupsi untuk membela anak-anak mereka. 

Salah seorang anak yang diikuti Lareau baru saja tidak lulus program anak-anak berbakat. Ibunya meminta agar anaknya dites kembali secara terpisah, mengajukan permohonan kepada sekolah, dan akhirnya berhasil memasukkan anaknya ke program tersebut. 

Sebaliknya, orangtua dari keluarga miskin merasa terintimidasi oleh orang yang memiliki wewenang. Reaksinya pasif dan tidak mau maju ke depan. Lareau menulis catatan mengenai salah satu orangtua dengan pendapatan rendah ini:

Sebagai contoh, pada pertemuan orangtua-guru, Ms. McAllister (yang merupakan lulusan SMA) sepertinya tidak banyak berbicara. Sikap terbuka dan senang berbicara yang ditunjukkan di rumah sepertinya dipendam dalam acara ini. 

Dia duduk diam di kursinya. Dia tidak banyak berbicara. Saat guru melaporkan bahwa Harols tidak mengerjakan PR-nya, Ms. McAllister tampak sangat terkejut, tetapi yang dia katakan hanyalah, "Dia mengerjakannya di rumah". 

Dia tidak berbicara dengan guru atau berusaha ikut campur atas nama Harold. Dalam pandangannya, sudah menjadi tugas guru untuk menangani pendidikan anaknya. Itu adalah pekerjaan mereka, bukan pekerjaannya.


Bertanam Padi dan Ujian Matematika

Bab ini menjadi bab yang mindblowing bagi orang yang tidak suka matematika sepertiku. Pada bab ini, Malcolm memaparkan mengenai alasan mengapa orang Asia lebih cepat menghitung dibandingkan dengan orang Amerika.

Jika Anda berbicara dalam Bahasa Inggris, Anda memiliki kemungkinan sebesar 50% untuk mengingat urutan nomor 4, 8, 5, 3,9,7,6 dengan sempurna.

Namun, jika Anda adalah orang Cina, Anda hampir dipastikan selalu bisa mengingatnya dengan benar. Kenapa begitu? Karena sebagai manusia kita menyimpan angka dalam lingkaran ingatan yang berjalan sekitar dua detik. 

Kita dengan mudah bisa mengingat apa pun yang kita katakan atau baca dalam waktu dua detik. Dan orang Cina mendapatkan daftar angka itu--4, 8,5, 3, 9,7 6--hampir tepat setiap kalinya karena, tidak seperti bahasa Inggris, bahasa mereka membuat mereka bisa mencocokkan ketujuh angka itu dalam waktu dua detik.

Contoh itu datang dari buku Stanislas Dehaene berjudul "The Number Sense". Seperti yang dijelaskan oleh Dehaene:
Ucapan nomor dalam bahasa Cina sangat singkat kebanyakan mereka bisa diucapkan dalam seperempat detik (sebagai contoh, 4 adalah "si" dan 7 "qi"). Dalam bahasa Inggris angka yang sama--"four", "seven"--dibaca lebih panjang: pengucapannya membutuhkan sepertiga detik. 

Jurang ingatan antara bahasa Inggris dan Cina rupanya disebabkan oleh perbedaan panjang kata tersebut. Dalam bahasa yang berbeda seperti bahasa Wales, Arab, Cina, Inggris, dan Ibrani, ada korelasi yang dapat ditiru antara waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkan sebuah angka dalam bahasa tertentu dan jangka ingatan orang yang mengucapkannya. 

Dalam hal ini, penghargaan utama untuk kemanjuran tata bahasa diberikan kepada dialek Kanton di Cina, di mana keringkasannya menyebabkan para warga Hong Konf memiliki jangka ingatan sekitar 10 nomor.

Ternyata ada perbedaan yang besar juga tentang bagaimana pembentukan sistem penamaan nomor dalam Bahasa Barat dan Asia. Dalam bahasa Inggris, mereka mengatakan fourteensixteenseventeeneighteen, dan nineteen, jadi mungkin juga ada orang yang menduga nomor-nomor ini akan diucapkan oneteentwoteen, dan fiveteen

Tetapi, mereka juga mengucapkan fifty, thirty, dan twenty, di mana suaranya mirip seperti five, three, dan two, tetapi sebenarnya tidak seperti itu. Dan untuk angka di atas dua puluh, mereka menempatkan “puluhan” di awal dan nomornya di bagian akhir (twentyone, twentytwo), di mana untuk belasan mereka menggunakannya secara terbalik (fourteen, seventeen, eighteen). 

Sistem penomoran di dalam Bahasa Inggris sangat unik. Tidak begitu halnya di Cina, Jepang, dan Korea. Mereka memiliki system perhitungan yang logis. Sebelas adalah sepuluh-satu. Dua belas adalah sepuluh-dua. Dua puluh empat adalah dua-sepuluh-empat, dan seterusnya. 

Perbedaan itu berarti anak-anak Asia belajar untuk menghitung lebih cepat dibandingkan anak-anak di Amerika. Anak Cina yang berusia empat puluh tahun bisa terhitung, rata-rata, sampai empat puluh. Anak-anak Amerika pada usia yang sama hanya bisa berhitung sampai lima belas, dan kebanyakan tidak bisa berhitung sampai empat puluh saat menginjak usia lima tahun. 

Dengan kata lain, pada usia lima tahun, anak-anak Amerika sudah ketinggalan satu tahun dibandingkan rekan-rekannya di Asia dalam keahlian matematika dasar. 

Keteraturan sistem penomoran mereka juga berarti bahwa anak-anak Asia bisa melakukan fungsi dasar, seperti penambahan, dengan jauh lebih mudah. Tanyakan kepada anak usia tujuh tahun yang berbahasa Inggris berapa 37 ditambah 22 di luar kepala, dan dia harus mengonversikan kata-kata itu ke dalam bentuk angka (37 + 22). Hanya dengan cara itu dia bisa menghitung: 2 ditambah 7 adalah 9 dan 30 serta 20 adalah 50 yang berarti jawabannya adalah 59. 

Tanyakan kepada anak Asia berapa tiga-puluhan-7 dan dua-puluhan-dua, dan persamaan penambahan itu sudah ada di sana, terdapat dalam kalimat tersebut. Tidak perlu ada penerjemahan ke dalam bentuk angka: Jawabannya adalah lima-puluhan-sembilan. 

“Sistem Asia sungguh transparan,” ujar Karen Fuson, seorang psikolog di Northwestern University yang telah mempelajari perbedaan antara Asia dan Barat dengan cermat. “Saya pikir hal itu membuat sikap terhadap matematika sangat berbeda. Daripada belajar menghafal di luar kepala, ada sebuah pola yang bisa saya ikuti. Ada sebuah pengharapan bahwa seorang anak bisa melakukan hal ini. Ada sebuah pengharapan bahwa semua itu masuk akal. Untuk pembagian, Bahasa Inggris mengucapkan three-fifths. Orang Cina mengatakan “dari lima bagian ambil tiga.” Hal itu langsung menerangkan konsep pembagian. Bahasa Cina membedakan antara penyebut dan pembilangnya.” 

Ketidaksukaan atas matematika yang sudah terkenal dari dulu di antara anak-anak Barat dimulai pada kelas tiga dan empat, dan Fuson menyatakan bahwa mungkin bagian dari ketidaksukaan itu berdasarkan kenyataan bahwa matematika tidak masuk akal; struktur bahasanya canggung; peraturan dasarnya terlihat berubah-ubah dan rumit. 

Sebaliknya, anak-anak Asia tidak mendapatkan kebingungan yang sama. Mereka bisa menyimpan angka lebih banyak di dalam kepala mereka dan melakukan penghitungan dengan lebih cepat, serta bagaimana pembagian yang diucapkan di Bahasa mereka berkorespodensi lebih tepat kepada apa sebenarnya pembagian itu sendiri—mungkin hal itu membuat mereka lebih menyukai matematika, maka mereka akan mencoba lebih keras dan mengambil lebih banyak kelas matematika serta lebih bersedia untuk melakukan pekerjaan rumah, dan seterusnya, dalam lingkaran yang lebih tinggi. 

Dengan kata lain, saat berhubungan dengan matematika, orang Asia memiliki kelebihan sejak awal. Tetapi, ini adalah kelebihan yang tidak biasa. Selama bertahun-tahun, siswadari Cina, Korea Selatan, dan Jepang—dan anak-anak dari imigran baru di negara-negara itu—mendapatkan kesuksesan lebih besar daripada teman-temannya di Barat pada pelajaran matematika, dan asumsi umum adalah hal itu berhubungan dengan kecendrungan kualitas bawaan bangsa Asia atas matematika. 


Kesepakatan Marita


Orang Jepang bersekolah selama 243 hari, Korea Selatan selama 220 hari, dan Amerika Serikat 180 hari. Orang Asia khususnya China dan Jepang memiliki kebudayaan yang meyakini, bahwa jalan menuju kesuksesan terletak pada bangun sebelum fajar selama 360 hari dalam setahun.

Maksudnya apa? Negara-negara di Asia memiliki penghasilan besar dari bertani. Pada zaman dahulu, petani Asia memiliki kebiasaan untuk bangun pagi yaitu sebelum fajar untuk mengurus sawah mereka. Hal ini berdampak pada tekad orang-orang Asia untuk hidup. Termasuk juga ketika masa sekolah.

Dalam buku Outliers, dipaparkan mengenai mengapa murid-murid di Asia dapat lebih menguasai mata pelajaran sekolah dibandingkan dengan murid-murid Amerika.

Tabel di bawah ini menunjukkan seberapa besar peningkatan nilai hasil ujian para siswa mulai pada saat mereka bersekolah di September sampai mereka selesai di bulan Juni. Kolom “Total” mewakili pembelajaran kumulatif selama lima tahun di sekolah dasar. 

Kesepkatan Marita - Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell - Inas Muthia

Mari kita lihat apa yang terjadi jika kita mengamati bagaimana nilai membaca berubah selama liburan musim panas. 

Kesepkatan Marita - Memahami Makna Kesuksesan Melalui Buku Outliers oleh Macolm Gladwell - Inas Muthia

Kolom pertama, yang mengukur apa yang terjadi setelah musim panas di kelas pertama. Anak-anak paling kaya kembali di bulan September dan nilai membaca mereka telah meloncat lebih dari 15 poin. Anak-anak paling miskin telah kembali dari liburannya dan nilai membaca mereka jatuh hamper 4 poin. Anak-anak keluarga miskin mungkin lebih pintar selama bersekolah. Tetapi, selama musim panas, mereka telah tertinggal jauh. 

Kini lihatlah kolom terakhir, yang merupakan total semua nilai setelah musim panas dari kelas satu sampai kelas lima. Nilai membaca dari anak-anak miskin naik sebesar 0,26 poin. Bila membicarakan kemampuan membaca, anak-anak keluarga miskin tidak mendapatkan apa-apa saat liburan. Sebaliknya, nilai membaca anak-anak keluarga kaya naik sebesar 52,49 poin. Semua kelebihan yang dimiliki anak-anak orang kaya atas anak-anak orang miskin adalah hasil dari perbedaan apa yang dipelajari anak-anak orang kaya saat mereka tidak bersekolah. 

Apa yang kita lihat dari kedua tabel itu? Salah satu kemungkinan terbesar adalah inilah efek perbedaan gaya orangtua, (dibicarakan pada bab Chris Langan), terhadap kemampuan akademis. Coba ingat lagi apa yang terjadi dengan Alex Williams, anak berusia Sembilan tahun yang telah diamati oleh Annette Lareau. Orangtuanya meyakini sistem “concerted cultivation”. Dia dibawa ke museum dan dimasukkan ke berbagai program khusus, lalu mengikuti sekolah musim panas dan mengambil beberapa kelas. Saat dia merasa bosan di rumah, ada banyak buku untuk dibaca olehnya, dan orangtuanya memiliki tanggung jawab untuk membuat anaknya terlibat di dunia sekelilingnya. Tidak sulit melihat bagaimana Alex bisa lebih hebat dalam membaca dan matematika selama liburan musim panas. 

Tetapi, tidak demikian halnya dengan Katie Brindle, anak perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah. Orangtuanya tidak punya uang untuk mengirim Katie ke perkemahan musim panas. Dia tidak diantarkan ibunya ke kelas-kelas khusus dan tidak banyak buku berserakan di rumahnya yang bisa dibacanya saat dia merasa bosan mungkin hanya ada sebuah televisi. Dia mungkin masih menikmati liburan yang menyenangkan, medapatkan teman baru, bermain di luar, pergi menonton film di bioskop, mendapatkan hari-hari musim panas yang bebas yang kita mimpikan. Namun, tidak ada satu pun dari kegiatan itu yang akan meningkatkan kemampuan matematika dan membacanya, dan setiap hari bebas di musim panas yang dihabiskan olehnya akan membuatnya semakin jauh ketinggalan dari Alex. Tidak berarti Alex lebih pintar daripada Katie. Dia hanya belajar lebih cepat dari temannya itu: dia belajar selama beberapa bulan lamanya di musim panas, sementara Katie menonton TV dan bermain di luar. 

Hasil penelitian Alexander menunjukkan bahwa cara pandang Amerika Serikat terhadap Pendidikan sudah kuno. Sejumlah besar waktu dihabiskan untuk mengurangi ukuran kelas, menulis ulang kurikulum, membelikaan laptop baru untuk setiap siswa, dan meningkatkan pendanaan sekolah—semuanya dengan asumsi bahwa secara mendasar ada sesuatu yang salah dengan apa yang dikerjakan sekolah pada saat ini. Tetapi, saat melihat tabel kedua, yang menunjukkan apa yang pada bulan September dan Juni, sekolah ada manfaatnya. Satu-satunya masalah dengan sekolah, bagi anak-anak yang tdiak mencapai kesuksesan, adalah jam sekolah mereka kurang banyak. 

Sesungguhnya, Alexander telah melakukan penghitungan yang sangat sederhana untuk menunjukkan apa yang akan terjadi bila anak-anak di Baltimore bersekolah sepanjang tahun. Jawabannya adalah anak-anak miskin dan kaya, pada akhir sekolah dasar, akan memiliki kemampuan matematika dan membaca yang hamper sama besarnya. 

Tiba-tiba penyebab superioritas keahlian matematika orang Asia menjadi semakin lebih jelas. Siswa di sekolah di Asia tidak memiliki libur musim panas yang panjang. Mengapa mereka tidak menjalani liburan yang panjang? Kebudayaan yang meyakini, bahwa jalan menuju kesuksesan terletak pada bangun sebelum fajar selama 360 hari dalam setahun, jarang memberi anak-anak mereka liburan selama tiga bulan secara berturut-turut di musim panas. Tahun ajaran di Amerika Serikat, rata-rata 180 hari panjangnya. Sekolah di Korea Selatan berlangsung selama 220 hari. Orang Jepang bersekolah selama 243 hari setiap tahunnya. 

Salah satu pertanyaan yang diajukan dalam sebuah ujian matematika baru-baru ini kepada siswa di seluruh dunia adalah seberapa banyak pertanyaan tentang aljabar, kalkulus, dan geometri mencakup berbagai topik yang pernah mereka pelajari di kelas sebelumnya. Bagi siswa kelas dua belas di Jepang, jawabannya adalah 92%. Itu adalah hasil dari bersekolah selama 243 hari setiap tahunnya. Anda memiliki waktu untuk mempelajari berbagai hal yang dipelajari dan lebih sedikit waktu untuk tidak mempelajarinya. Untuk siswa kelas 12 di Amerika, angka yang mereka berikan adalah 54%. Bagi siswa dari keluarga miskin, Amerika tidak memiliki masalah di sekolah. Amerika memiliki masalah di liburan musim panas, dan itulah masalah yang dicoba untuk diselesaikan oleh sekolah-sekolah KIPP. Mereka memutuskan untuk menerapkan pelajaran tentang kebudayaan sawah di kota-kota Amerika.


Kelebihan

1. Buku ini berisi pemaparan unik mengenai faktor-faktor kesuksesan


Kekurangan

1. Karena buku ini terjemahan, ditemukan masih ada beberapa typo dalam tata penulisannya.

Comments

back to top