Membuang Hal-Hal Tidak Penting dalam Hidup

Howl's Moving Castle

Aku pernah bercerita ke beberapa teman tentang seni berberes ala Marie Kondo. Aku tahu tentang seni ini dari membaca bukunya, The Life-Changing Magic of Tidying Up. Dalam buku tersebut, Marie Kondo menuliskan bahwa ketenangan hidup bisa didapatkan dari ruangan yang rapi.

'Ruangan yang berantakan, menandakan pikiran yang berantakan'

Begitulah kalimat yang ku ingat. Aku setuju dengan pernyataan tersebut, karena biasanya ruanganku berantakan di saat pikiranku juga sedang berantakan.

One Kings Lane

Marie Kondo membagikan kisah masa kecilnya, bagaimana dirinya merasa rumahnya tetap berantakan walaupun sudah secara rutin ia bersihkan. Ia pun mulai meneliti barang-barang yang ada di rumahnya. Ada tumpukan koran lama yang sudah tidak terpakai menjadi 'penghuni tetap' di bawah meja TV-nya, tumpukan CD, dan barang tak terpakai lain yang memenuhi rumahnya.

Akar permasalahan pun ditemukan. Alasan mengapa rumah Marie Kondo selalu berantakan adalah banyaknya barang tak terpakai yang tak pernah dibuang. Marie pun mulai membuang barang-barang tak terpakai itu diikuti dengan protes orang rumah yang tak rela 'penghuni tetap'-nya dibuang begitu saja.

Namun, setelah Marie membuang barang-barang tak terpakai, rumahnya menjadi lebih lenggang dan rapi. Teknik berberes ala dirinya rutin ia lakukan hingga dirinya dewasa dan kini Marie Kondo telah menerima banyak klien dalam permasalahan berberes rumah.

***

Membuang Barang, Apa Tidak Eman? 

Mubi - Happy Old Year

Kita pasti memiliki momen-momen tertentu dalam sebuah barang. Entah itu karena kado dari seseorang, mengingatkan kita akan suatu hal yang indah, dan lain-lain. Kita sangat menyayang barang tersebut, barang kesayangan yang satu lagi, barang kesayangan yang lainnya lagi, hingga menumpuk dalam ruangan dan akan selalu di sana walau kita tak pernah setiap saat memegang barang tersebut.

Tentu, Marie Kondo juga pernah merasakan hal yang sama ketika memilah barang untuk dibuang. Ketika perasaan bersalah atau menyayangkan suatu barang akan dibuang, Marie Kondo akan memegang barangnya terlebih dulu, merasakan perasaan yang ia dapat ketika memegang barang tersebut. Kemudian, menanyakan pada dirinya, "Does it spark joy?"

House Beautiful

"Does it spark joy?"

Apakah barang ini menimbulkan perasaan bahagia bagi diriku untuk kedepannya? Atau hanya untuk saat ini? Apakah aku benar-benar sesayang itu terhadap barang ini? 

Tidak perlu berfikir dua kali untuk membuang barang jika tidak benar-benar sparks joy. Langsung pilah antara diberikan untuk donasi atau dibuang. Terlalu lama berfikir hanya akan membuat kita menyimpan kembali barang tersebut, menumpuknya, dan menjadikannya 'penghuni tetap' dalam ruangan.

***

Barang yang Enggan Dibuang

Berdasarkan pengalamannya, Marie Kondo menuliskan tentang barang-barang yang biasanya enggan dibuang:

1. Foto

Licorne Magazine

Foto memang sangat indah untuk dikenang, namun akan ada permasalahan baru ketika kita memiliki banyak foto yang dicetak. Baiknya, cukup pilih satu foto terbaik kemudian simpan di dalam album, daripada dibiarkan menumpuk dalam satu boks.

2. Pakaian bekas

We Heart It

Pakaian yang sudah tidak terpakai, baiknya didonasikan atau dibuang. Jangan disimpan dengan alasan untuk digunakan sebagai lap/kain pel. Itu hanya akan menjadikannya sampah yang baru.

3. Barang sentimental

IMDb - Happy Old Year

Ada seorang klien yang menyimpan jas dalam waktu cukup lama. Ia menyimpannya dengan alasan, bahwa jas tersebut adalah benda terakhir yang ia gunakan ketika bersama mantannya. Cukup katakan terima kasih kepada benda tersebut jika memiliki kenangan tertentu, kemudian donasikan atau buang.

Barang sentimental merupakan barang yang paling susah untuk dibuang. Maka dari itu, berberes dimulai dari barang non-sentimental terlebih dulu. Jika mendahulukan membuang barang sentimental, maka kegiatan beres-berberes tidak akan terjadi, karena kita akan terus menyayang dan menyimpan seluruh barang-barang sentimental itu.

***

Berberes 'Barang yang Lain'

Setelah membaca The Life-Changing Magic of Tidying Up, aku mencoba menerapkan seni berberes Marie Kondo. Aku mulai memperhatikan lagi barang-barang yang ada di ruanganku. Memilahnya antara yang terpakai dan tidak. Hasilnya, aku menyimpan banyak sekali barang tidak penting dalam kamarku, yang membuat kamarku penuh.

Penuhnya barang ini ternyata tidak hanya ada di ruangan atau di rumahku, namun juga ada di barang-barangku yang lain. Sebut saja barang lain itu adalah:

1. Email

"Bagai gajah di pelupuk mata"

Mungkin itu adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan ketidakpedulianku terhadap hal-hal kecil di sekitarku. Suatu yang jelas ada di depan mata, namun tidak terlihat. Hal ini berlaku pada inbox  di email yang tiap hari selalu aku buka, aku lihat ada inbox apa dan dari siapa saja, namun terlalu malas dalam mensortir dan menghapus.

Baru-baru ini, aku lagi gencar ngubek-ngubek email. Mulai dari ngecekin tab inbox, social, promotion, dan spam. Kegiatan ini aku lakukan karena beberapa waktu lalu akunku sempat compromised, digunakan oleh orang lain, tanpa sepengetahuanku.

Tiba-tiba saja ada email masuk yang menginfokan bahwa akunku berhasil didaftarkan pada suatu platform. Padahal, aku tidak mendaftarkan akunku pada platform tersebut. Satu bulan kemudian, kembali muncul email yang memberitahu bahwa aku harus membayar sekian dollar untuk layanan iklan. Dude, aku juga tidak pernah mendaftarkan akunku yang satu ini untuk beriklan.

Aku mulai mendata setiap akun email yang kupunya, beserta platform yang terdaftar (baik untuk aplikasi maupun sekedar newsletter). Tidak terasa, terlalu banyak platform yang kudaftar, padahal aku juga jarang menggunakan atau membaca newsletter dari platform-platform itu.

Setelah mendata akun dan platform terdaftar, aku mulai mensorting email untuk kuhapus. Totalnya sekitar 5 ribu email. Sekilas terlihat banyak, tapi aku yakin ada yang lebih banyak. Aku ingat, dulu, semasa SMP, inbox email-ku mencapai 12 ribu. Itu hanya di satu akun email. Kemudian, guru TIK di SMP-ku memberitahu bahwa ada baiknya inbox yang tidak penting dihapus.

Kebiasaan menghapus email ini lumayan masih kubawa sampai kuliah. Namun, agak kulupakan semenjak lulus. Seperti sebuah alarm, dengan kejadian compromised-nya akunku, maka aku kembali lagi ke kebiasaan hapus-menghapus inbox tidak penting.

Sorting dan penghapusan inbox ini kurasa bisa dimasukkan dalam seni berbenah dari Marie Kondo. Untuk dunia per-email-an mungkin cocoknya: "Inbox tidak penting, yang tidak pernah dihapus, menandakan inbox yang tidak pernah diperhatikan" Agak tersentil ya, bagi diri sendiri.

Pinterest

Well, kalau begitu, teknik berberes Marie Kondo di dunia per-email-an, bisa aku rincikan seperti berikut:

1. Berhenti berlangganan newsletter email yang kita tidak akan pernah membacanya, baik di waktu sibuk apalagi di waktu senggang. Jika di saat sibuk kita tidak pernah membuka newsletter tersebut, maka kita patut unsubscribe saat itu juga.

Kenapa aku bilang di saat sibuk? Sesuai pengalamanku, di saat sibuk, aku tetap bisa terdistraksi dengan suatu hal yang menarik. Jika di saat sibuk aku tidak terdistraksi untuk membuka suatu inbox newsletter dari suatu platform, maka aku memang tidak benar-benar tertarik terhadap newsletter tersebut. Tidak akan ada penyesalan saat berhenti berlangganan, yang ada, aku berterima kasih pada diri sendiri, karena kotak masuk jadi kosong-melompong.

2. Inbox email layaknya surat dalam kotak pos, lama-lama akan penuh jika tidak dibuang.

Tidak perlu kujelaskan panjang-lebar. Tentu saja, inbox akan terus bertambah dan menutupi email-email penting yang tidak pernah kita sortir. Akan membutuhkan waktu lebih untuk mencari inbox penting di antara tumpukan yang tidak penting. And it is such a wasting time...


2. Wishlist dan isi keranjang belanja

Shopaholic

Terlalu banyak wishlist yang nggak pernah aku lihat lagi setelah mengeklik 'love' dan bahkan jarang yang berujung check out pada akhirnya. Begitu juga isi keranjang belanjaku. Saat aku masukkan suatu item ke keranjang belanja, aku selalu berfikir, "Bulan depan aku beli."

solarisjapan

Tapi, dua bulan sudah terlewati dan aku tidak pernah membelinya. Semua itu hanya lapar mata dan kalau kupikir, "Untung waktu itu nggak jadi beli, kalau beli sama saja dengan buang-buang duit."

1. Aku tertarik suatu barang, aku cari di internet.Terus, bagaimana caranya supaya kita bisa membedakan kalau kita benar-benar ingin dan bukan sekedar lapar mata? Aku selalu terapkan cara ini:

2. Ketika barang tersebut ada di suatu e-commerce, aku masukkan dulu ke Keranjang Belanja, bukan Wishlist (karena aku selalu lupa dan bahkan nggak pernah ngecek wishlist lagi kedepan-depannya). I don't know. It was just being skipped all the way long.

3. Aku tahan untuk nggak beli dulu. Aku selalu ngasih pertanyaan-pertanyaan sama diri sendiri

  • Emang aku sebutuh itu ya sama barang ini? 
  • Emang kalo aku nggak beli sekarang, ngaruh ke kehidupanku? 
  • Coba dipikir lagi deh, barang ini manfaat jangka panjangnya apa? 
  • Coba bandingin dengan barang yang satu lagi, lebih penting barang ini atau itu? 

Setelah menemukan jawaban beserta excuses-nya yang cocok, aku putuskan untuk beli atau nggak.

4. Poin nomor tiga bikin aku selalu memilih opsi 'NGGAK PERLU CHECK OUT. LAGI NGGAK BUTUH. BARANGNYA NGGAK NGARUH KE KEHIDUPANKU.' Iya, segalak itu bund akhir keputusannya. #womenlifeaboutshopping

Sikap galak seperti di atas sangat membantu lho supaya nggak menjadikan diri sebagai pribadi yang konsumtif. Contohnya, aku lihat dari sepatu bagus banget nih modelnya, gue banget gitu. Pikiran sesaat munculnya, "Harus beli nih. Gue banget!" Masukin deh ke keranjang belanja. 

Giphy

Tapi, aku lihat-lihat lagi, sepatuku masih ada dan bagus. Masih bisa dipakai dan berfungsi sangat baik. Lagian, sepatuku juga bukan jenis sepatu yang sekali kena hujan lemnya lepas, bisa dibuat hang out i ataupun olahraga, dibuat lari atau nge-gym nggak bakal robek, atau sekali kaki kesandung cat sepatu juga gabakal ngelupas.

Pemikiran sesederhana seperti itu yang memunculkan keputusan galak dan tidak over consumption. Thank myself for the money later.

Ps. I've got a bad experience. Aku pernah beli sepatu dari fast fashion store dan nggak sengaja kesandung trotoar, catnya ngelupas dong. Bad impression dan akhirnya agak ogah beli sepatu di fast store itu lagi.


3. Unimportant Feeling and Negative Mind

No hard feeling.
Don't take it seriously.
Don't take it personally.

Ini agak susah sih, membuang perasaan dan pemikiran negatif yang tidak penting. Aku juga masih belum bisa 100% sukses mensortir unimportant feeling dan negative mind. Apalagi feeling, soalnya manusia kan memang makhluk yang memiliki perasaan? 

Cuma kadang, manusia bisa salah membiarkan perasaanya. Misalnya, jadi badmood karena chat nggak dibales, marah-marah nggak jelas, kecewa ketika dikritik tentang hasil pekerjaan, jealous ketika diperlakukan berbeda karena yang satu sudah lebih berpengalaman sedangkan diri sendiri belum se-jago itu, dan lain-lain.

Keseringan juga unimportant feeling dan negative mind muncul karena kita kurang berkomunikasi dan bekerja sama dengan diri sendiri. 

A: Akal
P: Perasaan
Chat lama nggak dibales...
P: "Kok balesnya lama banget ya? Apa sesibuk itu? Dulu kayanya aku sibuk, masih bisa aja ngabarin kok..."
P: "Saatnya aku ngambek."
A: "Eits, tunggu dulu. Coba dipikirin lagi, memang kalo ngambek, bakal nyelesaiin masalah?"

Hahaha, pinginnya segampang itu ya untuk menbuat akal dan perasaan bekerja sama. Tapi, kenyataannya, aku sendiri kadang belum bisa segampang itu mempertemukan akal dan perasaan 😅

are.na

Untuk poin ini, aku masih belum punya tips yang ampuh selain akhirnya mencoba untuk mengalihkan pemikiran negatif dengan hal yang lebih bermanfaat. Seperti, 

P: "Aduh, kenapa aku jadi nggak produktif begini... Nggak mau rebahan terus kaya gini"
A: "Terus, mau ngapain?"
P: "Pingin produktif tapi yang bikin happy. Pingin ngerasain happy and fun nih!"
A: "Yaudah, renang aja gimana?"
P: "Boleh... Wah, aku sudah membayangkan air kolam renang yang bikin segar!"
A: "Yuk, gas!"

Pada akhirnya, walau belum sebaik itu mensortir unimportant feeling dan negative mind, aku tetap ingin bisa menerapkan Seni Berberes Marie Kondo terhadap "dua barang" ini.

***

Referensi:

Comments

back to top