Langkah-Langkah Kecil untuk Menghargai Diri Sendiri

 
Orang-orang terkadang bingung bagaimana cara menghargai diri sendiri. Apakah dimulai dari memperhatikan tata krama atau hal lainnya? Untuk kamu yang masih bingung, sebenarnya menghargai diri sendiri itu bisa dimulai dari hal sederhana lho! Salah satunya seperti membenahi tempat tidur di pagi hari.
 

1. Membenahi tempat tidur di pagi hari


Aktivitas dimulai pada pagi hari ketika kita bangun dari tempat tidur dan berakhir pada malam hari di tempat tidur.

Tempat tidur adalah tempat paling nyaman untuk melepas penat. Entah itu untuk beristirahat sejenak atau mengerjakan sesuatu di kasur.

Maka akan terasa nyaman juga kalau kasur selalu dalam keadaan rapi. Kita punya ruang yang lebih leluasa dan mendapati tidur yang nyenyak.

Tapi, bagaimana kalau keadaan kasur kita berantakan? Dari sudut pandangku, pasti rasanya seluruh kamar ikut berantakan. Jadi, aku selalu berusaha sehabis bangun tidur di pagi hari untuk langsung membereskan kasur.

Aku pernah lihat Instastory salah satu temenku, isinya tentang alasan kenapa membenahi kasur selepas kita bangun tidur adalah suatu langkah yang baik bagi diri kita.
 

Alasannya sederhana. Kita sebagai manusia pasti merasakan lelah sehabis pulang sekolah ataupun berkerja. Jika kita membenahi kasur di pagi hari, maka diri kita tidak perlu repot-repot membenahi kasur lagi ketika kita pulang ke rumah dalam keadaan letih. Kita bisa langsung membersihkan diri dan tidur di kasur yang nyaman.

Langkah kecil ini akan membuat perasaan bahagia pada diri kita. Coba deh bayangin, setiap pulang sekolah atau kerja, ketika badan dalam keadaan capek, kasur kita sudah dalam keadaan rapih dan nyaman. Menyenangkan kan?

2. Menghabiskan makanan


Pernah suatu ketika, aku membawa bekal makanan dan menemani temanku makan di suatu tempat. Aku perhatikan kebiasaan temanku ini adalah selalu menyisakan makanan di piringnya.

Entah karena pikiranku yang kini bertambah dewasa atau karena aku memang masih lapar, aku pun selalu meminta izin untuk menghabiskan sisa makanan milik temanku. Tentunya temanku dengan senang hati mengizinkan.

Aku kemudian mencoba melihat kembali diriku di masa kecil. Waktu kecil, aku sering banget buang makanan. Tidak suka lauknya, aku sisihkan dan kemudian dibuang. Porsi makanan terlalu banyak, aku sisihkan dan kemudian dibuang.

Ternyata, setelah disadarkan oleh temanku saat itu, menyisakan makanan di piring bukanlah suatu perbuatan yang baik. Aku merasa diriku ketika kecil itu tidak menghargai makanan, tidak menghargai orang yang memasak makanannya, tidak menghargai kenikmatan bahwa aku masih bisa makan enak sedang orang-orang di luar sana masih banyak yang kelaparan.

Aku pun mencoba sebisa mungkin selalu menghabiskan apa yang ada di piringku. Jika sekiranya aku sedang kenyang, maka cukup mengurangi porsi makanan yang kuambil dan menghabiskannya. Tidak ada alasan untuk menyisakan makanan di piring sebagai bentuk penghargaan pada diri sendiri dan salah satu bentuk rasa bersyukur.


3. Banyak mendengarkan orang lain


 

Disclaimer: Banyak mendengarkan orang lain di sini bukan berarti mendengarkan semua perkataan orang terhadap kita.

Lebih tepatnya, ada masa di mana teman terdekat kita atau orang-orang di sekeliling kita sedang dalam keadaan yang 'nggak' baik-baik saja. Abis putus, bingung tugas, bingung kerjaan, masalah keluarga. Hal-hal semacam itu bisa aja bikin mood seseorang down selama berhari-hari.

Apa yang mereka butuhkan? Mereka butuh didengar. Ketika kita dipilih sebagai pendengar, maka dengarkanlah. Tanpa memotong, tanpa memberi nasihat-nasihat panjang jika ia tidak meminta.

Bagiku, hal tentang 'mendengarkan' ini susah untuk dilakuin. I'm a bad listener. Aku males kalau ada orang ngomong panjang banget nggak langsung ke intinya. It's such a wasting time dan kebiasaan jelekku adalah memotong perkataan orang lain kalau aku rasa ngomongnya sudah kepanjangan.

But, ketika aku sedang ada dalam posisi orang tersebut, yang aku butuhin ya cukup didengar dengan sabar.

Ada buku berjudul 'The Leader Eats Last' (Pemimpin Makan Paling Akhir) karya Simon Sinek. Aku belum baca sih, tapi dari sinopsis dan short review-nya, buku tersebut berisi tentang bagaimana seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mendengarkan orang lain dengan baik. Pemimpin harusnya bicara paling akhir setelah semua anggota-anggotanya berbicara untuk mengetahui sejauh mana sudut pandang dari setiap anggotanya.

And... how about me? Aku belum bisa mendengarkan dengan baik jadi aku belum menjadi pemimpin yang baik --bagi diriku.

Aku setuju sih dengan pernyataan, kita lebih baik mendengarkan pendapat orang lain untuk tahu sejauh mana pemikiran dia terhadap suatu hal. Sedangkan, aku adalah orang yang ingin berbicara paling awal. Aku merasa pemikiranku sangat dangkal kalau mengingat-ngingat 'aku menjadi orang yang berbicara atau menyuarakan pendapat lebih awal'.

Kemudian, aku mulai belajar gimana caranya jadi pendengar yang baik akhir-akhir ini. Aku tanya ke temenku yang dapat dibilang sebagai 'the good listener'. Katanya sih, kalau ada orang yang lagi pingin curhat ya dengerin aja, nggak perlu di judge, nggak perlu dikomentarin.

And then I end up by saying 'yes' if people started talking so long. The word 'yes' I said was actually means 'I said yes and then everything is done'. It kinda works sometimes.

Terus, apa hubungannya banyak mendengarkan orang lain dengan perubahan di diri kita?

Tentu aja, kita sedikit mulai sedikit menjadi orang yang sabar. Kita jadi nggak gampang nge-judge orang karena ketika kita mendengarkan seseorang, we put ourselve in their shoes. Selain itu, kita bisa memiliki pemikiran yang luas dan mengerti cara menghadapi orang dengan tipe yang berbeda. Kita jadi tahu, mana orang yang pemarah dan gimana cara ngehadapinnya, kita tahu orang yang pemalu, dan masih banyak lagi.

Terlepas apakah aku bad listener gara-gara sifat Dominance-ku atau bukan, nggak ada salahnya untuk banyak-banyak belajar mendegarkan orang lain.

Comments

back to top