Menjadi Asesor di SMKN 1 Lemahsugih, Majalengka, Setahun Lalu

Untuk post ini, aku mau bilang lagi bahwa:
Time flies so really fast.

Tahun lalu, tepatnya tanggal 9 April 2019, aku dan teman-teman sedang berada di Majalengka. Kita lagi jadi penguji di salah satu SMK di sana. Aku inget banget, jam dua belas malam aku ke kos Amel supaya kita bisa jalan ke tempat kumpul barengan. Aku, Amel, Jeje, Nurin, Fajri, Bang Victor, Bang Lui, dan Ali. Ali menyetir mobil pertama kali. Tapi, ketika sampai di jalan tol, dia udah nggak kuat buat nahan kantuk. Akhirnya, Bang Lui bersedia buat gantiin. Aku yang sleepy head ini langsung terjaga pas Bang Lui ganttin Ali buat nyetir, wkwkwk.

Mobil melaju di jalan tol. Tapi, anak-anak bagian depan ngerasa ada yang aneh. Kayanya kita salah jalan. Iya, emang salah, wkwk. Kita pun putar balik. Abis deh duit buat bayar tol. Duit Bang Lui tapi, hahaha. Makasih ya, Bang Lui. Akhirnya, Fajri pun bersedia untuk nyetir sepanjang jalan menuju Majalengka bersama Nurin sebagai map kedua karena lainnya pada memilih tidur. Jahat banget. Aku juga jahat banget, tidur melulu.

Sekitar jam enam pagi, kita udah sampai di sekitar jalan menuju SMK. Hal tak terduga terjadi. Ban mobil yang kami tumpangi bocor. Daerah yang kami lalui merupakan jalan kecil di daerah Majalengka di mana kanan kiri merupakan tanah kosong atau persawahan. Pagi itu sedikit sekali orang berlalu lalang dan kami tidak melihat ada bengkel.

Ali mencoba untuk memperbaiki ban mobil dengan alat seadanya. Bang Lui, Jelita dan Nurin bolak-balik berjalan mencari bengkel tapi hasilnya nihil. Saat itu, kebetulan ada angkota lewat dan Jelita tanya apakah ada bengkel di dekat sini? Bapak angkot pun bersedia mengantar Jelita ke tempat bengkel kenalannya. Aku saat itu sedang datang bulan, memilih stay di mobil bersama Amel. Tak lama kemudian, Jelita bersama seorang bapak datang dari sebuah bengkel yang lumayan jauh dari lokasi kami. Bang Lui, Jelita, Nurin, dan Bapak is our real hero saat itu. Meninggalkan rasa bersalah padaku dan Amel karena nggak bantu apa-apa. Ban mobil kami diganti dan kami bilang kalau nanti akan ke bengkel si Bapak lagi.

Setelah urusan ban mobil selesai, kami pun melanjutkan perjalanan. Begitu sampai di SMK, sudah ada Pak Teguh, dosen pembimbing kami selama pengabdian masyarakat ini. Kami segera berganti baju dan merapihkan diri. Sebelum ujian kompetensi dimulai, kami berkumpul untuk diberi sambutan serta pembekalan sebelum menjadi penguji. Pembekalan dirasa cukup, kami pun dibagi dalam beberapa kelas. Aku menjadi penguji RPL, satu ruangan dengan Fajri dan Amel.

Selama menjadi penguji, hal yang kami lakukan adalah melihat hasil kerja dari siswa lalu mengaudit dan mencatat nilai ke lembar penilaian. Sekitar dua jam, kami sudah selesai mengaudit setiap siswa. Kami pun kembali ke ruangan. Begitu semua teman-temanku sudah selesai menguji, waktu tepat jam dua belas siang sehingga kami sholat dan beristirahat. Kami makan siang dengan sate yang dibeli di warung dekat sekolah. 

Masa ujian telah selesai, kami pamit kepada pihak sekolah dan pulang ke rumah Pak Teguh yang berada di Majalengka. Jalan menuju rumah Pak Teguh bisa dibilang tidak terlalu mudah karena melalui jalan naik dan turun yang terjal serta berkelok-kelok. Pada beberapa jalan juga merupakan hutan-hutan atau tanah kosong.



Jam lima sore, kami sampai di rumah Pak Teguh. Kami antri untuk membersihkan diri. Ibu Pak Teguh menyediakan kami makan malam dan teh hangat. Sehangat suasana beramai-ramai pada saat itu. Kami dan Pak Teguh mengobrol hingga larut malam. Obrolan dihentikan ketika semua sudah merasa ngantuk. Termasuk aku, hehehe.

Keesokan pagi, aku bangun subuh karena sakit perut. Pak Teguh kemudian mengajak beberapa kakak tingkat yang sudah bangun untuk ikut dengannya. Kakak tingkat pun mengajak aku dan teman-temanku. Kami pun berangkat dengan posisi aku sebagai cewek sendiri. It's okay. Kami mengendarai mobil ke suatu tempat menanjak yang ada di belakang rumah Pak Teguh. Medannya benar-benar terjal.

Kami sampai di suatu tempat seperti bukit-bukit sawah. Sepertinya ini terasering yang kemarin aku dan teman-teman lihat ketika tragedi ban mobil bocor. Udara dingin dan sejuk sekali. Mobil di parkir di area tanah kosong dan kami berjalan kaki untk naik lagi ke tempat yang lebih tinggi. Meskipun berjalan di medan yang menanjak naik, badanku tidak merasa capai sedikit pun. Mungkin tertutupi oleh rasa excited-ku supaya bisa melihat matahari terbit. Melihat matahari terbit merupakan salah satu mimpiku gara-gara dulu aku pernah naik ke suatu bukit di pantai pada sore hari dan tidak berhasil melihat matahari tenggelam. Sejak saat itu, aku bertekad supaya bisa melihat matahari terbit dan tenggelam di momen yang tepat. Tepat satu tahun lalu, akhirnya aku bisa melihat matahari terbit di suatu tempat berbukit di Majalengka! I was really excited. Aku bahkan nggak mengambil handphone-ku untuk merekam matahari terbit. Untungnya Bang Lui sempat merekam dan share the video with us.



Puas menikmati pagi hari di atas bukit, kami kembali ke rumah. Kami membersihkan diri, menyantap sarapan, dan berangkat menuju SMK untuk menyampaikan perpisahan lalu bersiap pulang ke Bandung. Sebelum pulang ke Bandung, kami mampir dulu di salah satu pemandian air panas. Kami sampai di pemandian air panas sekitar jam tiga sore. Waktu yang tepat untuk mengistirahatkan badan yang cukup pegal ini sekaligus refreshing sebelum mendapat materi perkuliahan lagi. Kita seru-seruan di pemandian air panas. Pemandian air panas saat itu juga tidak terlalu ramai karena bukan hari libur.



Hari mulai gelap, kami pun segera bersiap untuk pulang. Sebelum benar-benar pulang, kami mampir lagi ke suatu tempat untuk makan bakso. Perfect banget abis berendam di pemandian air panas terus makan bakso. Selesai menyantap bakso, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung.

Wah, nggak abis fikir aku merasa se-bersyukur ini karena aku nggak menyia-nyiakan kesempatan ikut ke Majalengka pada tahun lalu. Tahun ini sebenarnya sudah ada rencana untuk melakukan pengabdian masyarakat ke Majalengka lagi, hanya saja karena ada pandemi Corona, ujian dihapus sehingga kami tidak jadi ke Majalengka.

Aku berterima kasih kepada Pak Teguh dan kakak-kakak Lab Sisjar yang sudah memberi kesempatan aku dan teman-teman Sisjar 2016 untuk bisa ikut pengabdian mayarakat ke Majalengka. It was fun though. Semoga pada tahun ini ada kesempatan baru lagi yang bisa aku dan teman-teman Sisjar 2016 nikmati bersama Sisjar 2017. Entah cepat atau lambat Corona berakhir, aku berharap ada kegiatan seperti satu tahun lalu yang bisa terulang. Aamiin.

Sumber gambar: Bang Lui

*This article was formerly posted in sugarush

Comments

back to top