Karantina di Perantauan

Virus Corona mulai menggemparkan Wuhan, Tiongkok di awal tahun 2020. Virus ini pun kemudian menjadi pandemi yang menyebar ke banyak negara termasuk Indonesia. Gue ngikutin berita tentang Corona dari pertengahan Februari karena di explore Instagram banyak muncul video-video pasien Corona di Tiongkok yang kejang-kejang, gue sampai gak tahan karena kasihan ngelihatnya.

Pertengahan Februari juga Corona mulai menyebar ke beberapa negara di Asia seperti Thailand dan Singapura. Gue mulai agak ngeri walaupun banyolan netizen Indonesia sebut Indonesia negara anti Corona karena banjir aja masih santuy. Ter-santuy se-Bumi lah. Terus ada juga yang bikin lelucon jangan dekat-dekat teman dengan HP Xiaomi karena nanti bakal kena Corona. Dude, ini nggak lucu sama sekali. Gue nggak menganggap lelucon apapun yang dihubungkan dengan Corona saat itu adalah lucu dan patut ditertawakan. Ya, walau gue terkadang ikut ketawa karena temen-temen gue bercanda melulu bawaannya.

Bahkan, kalau ada yang bilang, "Eh, lu batuk. Kena Corona lu ya?". Gue langsung lirik atau bilang kalau itu temen gue. "Jangan gitu, dong. Serem. Lu ngingetin gue sama yang di Cina." Terus gue juga pernah baca postingan kurang lebih seperti ini di Facebook sebelum Indonesia terkena wabah Corona.
Indonesia memang tidak terkena wabah Corona. Tapi, please jangan sombong sampai-sampai bilang, virusnya takut ke orang Indonesia.
Sejak itu gue selalu mewanti-wanti untuk menjaga kesehatan. Ketika gue baca-baca pencegahan Corona bisa dengan mengonsumsi makanan atau pun minuman yang mengandung curcumin, gue langsung dah belajar bikin jamu kunyit, wkwk.

Kilas Balik 1

Akhir Februari

Akhir Februari, gue sempet ke Jakarta selama seminggu untuk main ke rumah saudara plus refreshing. Gue merasa bersyukur saat ini karena pada waktu itu gue menyempatkan diri untuk jalan-jalan di Jakarta. Sekitar seminggu atau dua minggu setelah pulang dari Jakarta, gue membaca berita bahwa muncul Kasus 01 Corona di Indonesia, tepatnya Kasus 01 tersebut tertular oleh carrier di Jakarta.



Pertengahan Maret

Pertengahan Maret pun kampus mengeluarkan surat keterangan untuk meliburkan perkuliahan hingga awal April. Namun, karena pandemi Corona masih belum reda, pihak kampus memperpanjang masa libur (untuk karantina diri) hingga waktu yang belum bisa ditentukan. Ketika gue nulis ini pun gue masih libur.

Sebelum kapus menambah masa libur, mahasiswa kampus sudah banyak yang pulang ke kampung halaman. Gue secara intens mengabari Umi dan Abi. Di satu sisi gue benar-benar takut, bingung, ingin pulang. Tapi, di satu sisi gue masih punya tanggung jawab Tugas Akhir yang harus sesegera mungkin gue selesaikan. 

Kenapa nggak kerjain Tugas Akhir di rumah aja?

Banyak banget pertanyaan seperti itu. Gue sudah izin dengan Abi bahwa gue stay di sini karena gue nggak mau menjadi carrier (jangan sampai) atau terhambat mengerjakan Tugas Akhir ketika di rumah karena posisi objek berjauhan serta pertimbangan lain.

Kilas Balik 2

Minggu Pertama Masa Karantina Diri (16-21 Maret)

Minggu-minggu pertama masa karantina masih banyak mahasiswa atau pun warga yang beraktivitas di luar rumah. Orang-orang keluar tanpa masker. Warung makan juga masih normal, banyak yang buka. Tapi, stok hand sanitizer dan masker kesehatan mulai banyak yang kosong di minimarket. Gue untungnya dari dulu siapin stok hand sanitizer. Saat itu, hand sanitizer gue dari tahun lalu tinggal tersisa dikit banget. Gue pun lebih memilih untuk mencuci tangan dengan sabun begitu abis memegang benda atau ketika dari luar kos.

Untungnya, ada kegiatan sosial yang bagi-bagi hand sanitizer gratis. Gue dan Tania pun memanfaatkan kesempatan itu. Pengambilan hand sanitizer dibatasi satu orang satu hand sanitizer

Oh iya, di beberapa daerah terjadi panic buying. Mbak Kos yang sempat ke Transmart di dekat daerah gue nge-story Whatsapp kalau gula habis. Tersisa satu bungkus yang akhirnya Mbak Kos beli. hand sanitizer baru restock dan Mbak Kos sempat berebut dengan seorang ibu karena hand sanitizer tersisa dua botol. Temen gue, Baki, juga sempat ke Borma. Dia cerita kalau Borma penuh banget orang-orang pada beli stok makanan.

Gue masih sempat ke kampus di tanggal 17 dan 18 Maret karena ada keperluan. Kampus sepi banget! Sepinya kaya libur semester. Tapi, gue ga tau sih apakah libur semester sesepi tanggal 17 dan 18 Maret. Satu per satu teman terdekat gue pun juga pulang kampung karena mereka mengantisipasi Bandung bakal lockdown dan transportasi akan sangat dibatasi.







A post shared by нас (@inaaas13) on

Tak terlepas dari kehidupan sosial yang terbatas, pertemuan kelas, rapat, bahkan bimbingan Tugas Akhir mulai dilakukan secara online.

Minggu Kedua Masa Karantina Diri (22 - 28 Maret)

Sekitar minggu kedua, kampus fix udah sepi banget. Timeline LINE TODAY mulai mengeluarkan update Corona di Indonesia. Gue cukup senang ketika ada pasien Corona yang berhasil pulih. Ini berarti ada secercah harapan bahwa pandemi Corona cepat atau lambat bisa ditangani.

Segala pertemuan dilakukan secara online. Abi yang awalnya masih ke kantor akhirnya mendapat kebijakan untuk work from home karena orang di kantornya ada yang menjadi ODP. Mbak gue menginap di kos supaya orang tua gue nggak khawatir. Temen-temen terdekat gue pada akhirnya satu per satu pulang ke kampung halaman. Gue dan Tani stay di sini karena bisa dibilang kampung halaman kita jauh.

Perlahan-lahan warung makan di sekitar kampus mulai tutup. Gue menjadi semakin rajin masak makanan sendiri. Chef dadakan lah kalo dibilang, hahaha. Gue seneng euy! Akhirnya gue bisa masak. Asal ada bawang merah, bawang putih, garem, gula, wajan, kompor, gue bisa masak lauk yang gue mau, hahaha.

I should thank Lemonilo and Shopee for providing the best e-commerce service, especially to stock food supplies.

Minggu Ketiga (29 Maret - 4 April)

Minggu ketigague jarang keluar kos sama sekali untuk beli bahan makanan. Ada warung deket banget sama kos gue cuma berjarak dua rumah dan satu warung pas banget di depan kos gue tinggal bilang dari pagar kalo mau beli jajan, tapi gue ngga keluar sama sekali, wkwk, parah. Entah karena gue memang fix mager atau sudah mulai menemukan keasyikan sendiri.

Gue merasa ada yang berubah pada diri gue. Gue jadi suka berfikir negatif dan agak pemarah. Cotonhnya kaya, 
"Apa gue bisa ya nyelesaiin Tugas Akhir tepat waktu?"
"Yaampun cucian piring banyak banget kenapa sih."
"Aduh, berantakan banget sih kamar gue."
Entah ini karena gue tidak bersosialisasi dengan banyak orang seperti hari-hari sebelumnya atau kenapa. Minggu pertama-kedua, gue masih bisa dibilang sering lah telefon temen atau orang-orang rumah supaya ada interaksi sosial dengan orang selain mbak gue. Gue pun mulai menulis lagi supaya nggak terlalu temperamen. Gue mulai hobi edit video sampai apa aja dah gue edit melulu saking sukanya.

Gue sempat beberapa kali ke super market untuk beli ikan (karena sering kehabisan ikan di warung sebelah akibat belanja kesiangan). Alhamdulillah, stok makanan stabil. Tapi, nggak tahu deh untuk stok hand sanitizer dan masker kesehatan karena gue nggak berniat membeli atau nge-stok juga. Super market mulai melakukan kebijakan tutup jam enam sore dari yang biasanya jam sembilan atau sepuluh malam. 

Beberapa orang yang berbelanja juga pakai handscoon atau sarung tangan plastik. Gue baca-baca sih malah berisiko kalau berbelanja menggunakan sarung tangan. Tapi, yaudahlah terserah orang itu.

Minggu Keempat (5 April - Hari Postingan Ini Gue Tulis)

Minggu keempat masa karantina, gue ngerasa badan gampang pegel-pegel. Mungkin ini efek gue di depan laptop terus dalam waktu yang lama dan sering begadang. Lebih tepatnya ngga bisa tidur. Gue pun sedikit demi sedikit mencoba gerakan work out dari Chloe Thing. Alhamdulillah, badan gue gak kaget yang sampai nyebabin demam begitu diajak work out.

Hari ini gue barengan sama Tania ke kampus sekitar jam 11 siang untuk ngambil makanan dan hand sanitizer serta masker gratis dari kampus. Kebutuhan ini merupakan acara yang diselenggarakan oleh FAST dan ASTACALA setau gue. Terima kasih FAST Tel-U. Terima kasih ASTACALA.

Thank you, Tel-U, FAST Tel-U, dan ASTACALA

Toko-toko sekitar kampus banyak yang tutup. Tapi, jajanan ternyata masih bisa dibilang banyak yang buka. Gue dan Tania mencoba mengabadikan situasi ini supaya besok-besok kita bisa throwback masa Tugas Akhir dilakukan selama masa pandemi Corona 2020.

Pada minggu keempat ini juga gue pun mulai mencoba aktif menulis lagi di blog ini dan Awam Teknologi sebagai langkah produktif. It's a good thing to do karena suatu hari gue bisa nostalgia betapa chaos-nya minggu-minggu karantina ini.

Gue berharap pandemi Corona cepat berakhir karena gue ingin sidang on site, gue ingin wisuda on site, dan gue ingin pulang ke keluarga, bertukar cerita bareng adik-adik gue di rumah. Ada banyak hal yang ingin gue lakuin dan tempat-tempat yang ingin gue kunjungin setelah Corona ini berakhir.

(.40)
*This article was formerly posted in sugarush

Comments

back to top