Menanam Pohon Pepaya



Libur panjang semester kemarin, aku heran di rumah sering banget disodorin potongan buah pepaya. Enak juga sih, gizi cukup terpenuhi dan merasa hidup sehat setelah di kosan makannya ayam geprek sama pecel lele melulu. Tapi nih ya, biasanya umi aku tuh kalo beli pepaya kan kelihatan nenteng-nenteng dari kresek, nah sekarang tuh engga.

Eh, ternyata adik aku nanem pepaya di belakang rumah. Aku awalnya ngga percaya pepaya yang aku makan karena tiba-tiba suka ada di meja makan itu hasil panen dari belakang rumah. Terus, emang iya deng, ada pohon pepaya udah tinggi. Ada dua lagi, saling berdampingan.

Nah, pohon pepaya ini ternyata ditanam sama adik aku. Jadi, umi aku kan suka beli pepaya tuh. Bijinya dipisahin dari daging buah. Biji-biji itu kemudian ditebar sama adik aku di belakang rumah. Awalnya, pohon pepaya itu nggak tumbuh-tumbuh. Terus, adik aku tiap pulang sekolah suka nyamperin pepayanya, sambil bilang, "Pohon pepaya, kamu tumbuh yang cepet ya biar umi ga beli-beli pepaya lagi." Disiramin sama dia. Dikit-dikit disamperin kaya jadi best friend.

Lama-kelamaan tumbuhlah pohon pepaya dan langsung tumbuh dua pohon. Makin tinggi sampai akhirnya bisa dipanen. Keren banget adik saya (level standar) . Aku pingin sih kaya gitu, nanem pohon pepaya, terus kubilangin, "Kamu tumbuh yang cepet ya biar bisa berbuah. Kalo bisa buahnya jangan pepaya tapi uang biar aku bisa beli sepatu." Hahahaha. Ngayal.

Gara-gara kejadian itu, aku percaya sih kalau tanaman dan makhluk hidup lainnya memang perlu diperlakukan seperti makhluk hidup. Diajak berinteraksi, disayang, dijengukin, dirawat, dan sebagainya. Karena dengan perhatian seperti itu bisa menjadi booster bagi makhluk hidup untuk melanjutkan hidupnya.

*Kelanjutan: Adik aku akhirnya nebar biji jeruk juga. Tapi, masih tumbuh daun-daun aja. Apa udah mati, ya? Semoga masih bisa tumbuh biar bisa panen.

Comments

back to top