Perumahan Kabut

Suatu hari di kelasku kedatangan murid baru, dia seorang cewek. Cella namanya. Dia pindah dari Purwokerto ke Bandung sudah agak lama, mungkin sekitar 2-3 bulanan. Namun, sebelum pindah ke sekolah umum dia mengikuti homeschooling.

"SMA itu nggak enak tau. Banyak tugas. Gurunya killer. Kerja kelompok hampir setiap hari. Pokonya nggak enak deh. Lo enakan diem di rumah dengerin tentor lo,"cerocos Marga. "Terus lo kenapa pindah?"tanya Riri. "Ibuku pindah dinas kerja di sini,"jawab Cella. Riri memutar bola matanya. "Maksudnya kenapa berhenti dari homeschooling gitu....,"ujar Riri. Cella hanya menggeleng sambil tersenyum simpul. "Ih, jangan-jangan lo bukan berhenti dari homeschooling,"celetuk Yuni, bercanda. "Hush, ngaco lo! Jangan bilang lo sebelumnya sekolah di sekolah lain di Bandung, terus lo pindah ke sini gara-gara ngelakuin tindak kriminal?"kata Jali, lebih ngaco. "Yee...Gila lu! Kalo udah ketahuan ngelakuin tindak kriminal ya kaga bakal diterima di sini kali!"seruku. "Mmm....Susah ngejelasinnya. Kalian pasti bakal nggak percaya kalo aku kasih tahu alasannya,"sahut Cella kemudian.

Guru Biologi, Pak Atmo, memasuki kelas. Anak-anak segera kembali ke tempatnya masing-masing. Selama satu setengah jam pada pertemuan kali ini ia hanya membagi beberapa murid menjadi kelompok-kelompok untuk sebuah penelitian bab pertumbuhan dan perkembangan. Satu kelompok terdiri dari 5 orang. Aku sekelompok dengan Cella, Riri, Marga, dan Jali. Kami pun sepakat untuk mengerjakan penelitian di rumah Marga satu minggu ini, kemudian mengerjakan makalahnya di rumah Cella karena hanya dia yang mempunyai printer.

Satu minggu pun berlalu. Kami mengerjakannya sedikit terlambat. Penelitian harusnya dimulai dari tanggal 3-10, namun kami mengerjakannya baru pada tanggal 6-15. Mana lagi tanggal 16-20 kami libur karena guru-guru workshop, membuat kami makin malas. Memang sih tidak ada batasan kapan mengumpulkan, tetapi yang paling cepat yang mendpaatkan nilai besar.

Tanggal 15 kami pun berkumpul untuk penelitian terkahir di rumah Marga. "Duh, aku nggak bisa kalau tanggal 16. Kalian ke rumahku tanggal 17 atau tanggal 19 saja. Bagaimana?"tanya Cella tiba-tiba. "Yah, Cell. Kalau diundur-undur entar nilai kita makin kecil. Lagian tanggal 17 dan 19 kebetulan kita banyak yang nggak bisa karena eskul kita rata-rata banyak rapat tanggal segitu,"sahutku. "Maaf....Tapi beneran gabisa. Gini aja deh, aku aja yang ngerjain makalah sekaligus ngeprint,"kata Cella. Aku pun mencoba mencari jalan lain. "Nggak usah deh Cel, nggak enak ke lonya. Masa tugas kelompok dikerjain satu orang. Besok kita kerjain deh makalahnya, di rumah siapa gampang. Kalau memang lo emang gabisa banget, nggak papa kok nggak usah dateng,"ujarku. "Setuju tuh guwe sama Damar,"sahut Riri. Yang lain pun mengikuti.

Tanggal 16, aku dan yang lain mengerjakan makalah dengan antusias, karena kalau terlalu banyak bercanda takut tidak selesai. Oh iya, sebelumnya Cella sempat meneleponku. Dia menanyai letak rumahku untuk ikut kerja kelompok. Aku bilang rumahku sangat jauh kalau dihitung dari perumahannya. Yah sebenarnya aku nggak tahu sih perumahan dia dimana. Dia bilang rumahnya di Perumahan Kabut Blok D37, hanya 1 km dari sekolah. Tapi tetap saja jauh. Jarak dari rumahku ke sekolah saja sudah jauh, apalagi ke rumahnya. Lagian Cella juga nggak bakal cepet tahu kalau aku kasih alamat rumahku.

Selesai membuat makalah Riri pun menyimpan di flashdisknya. Dia besok akan ke warnet untuk ngeprint.

Tanggal 18, selesai rapat eskul di sekolah, aku mendapat telepon dari Riri bahwa flashdisknya terkena virus. Semua data-datanya, termasuk file makalah penelitian ikut terhapus. Aku pun memutuskan untuk langsung ke rumah Cella di Perumahan Kabut.

Perumahan Kabut Blok D37... 

Daritadi aku tidak menemukan rumah Cella. Mana HPku tidak ada pulsa untuk telepon atau sms. Aku pun mencoba ke arah lain. Ketemu! Ada plang bertuliskan "Blok D-E || 30-40" (blok D dan E nomor 30-40 bersebrangan) Aku pun menyusuri blok itu. Namun sampai diujung aku tidak menemukan rumahnya. Aneh, aku menyusuri rumah bernomor 32, 34, 36 seterusnya  sampai 40. Tidak ada angka ganjil. Begitupun rumah di seberangnya. Aku mencoba menyusurinya lagi. Sama saja! Sudahlah, berkali-kali aku menyusuri blok itu dan mengamati rumahnya satu-satu tidak ada yang berangka ganjil. Aku pun pulang karena putus asa mencari rumah Cella.

Tanggal 19, aku akhirnya punya pulsa setelah meminta pada Ayah. Aku pun segera menghampiri Jali yang kebetulan juga rapat eskul di sekolah untuk meng-copy  file Biologi. "Lo print di rumah Cella aja, rumahnya deket, di Perumahan Kabut Blok D37, 1 km dari sini. Biar uang lo ngga kalong juga sih. Rumah lo kan jauh sama kaya guwe. Tapi ati-ati deh kalo ke rumah Cella. Lo kudu bener-bener teliti. Kemarin guwe ke Perumahan Kabut, gaada Blok D37. Adanya nomor genap semua,"ujarku sambil berbisik. Jali manggut-manggut saja.

Tanggal 20, sekitar jam 2 siang Jali menghampiri basecamp eskulku. Kebetulan eskul kami rapat di hari yang sama lagi. Dia menyerahkan print out makalah Biologi. "Ada yang salah gak tuh?"tanya Jali. Aku mencoba meneliti. "Wah, banyak salahnya nih. Ada beberapa yang paragrafnya nggak menjorok,"jawabku sambil menggarisi bagian-bagian yang salah. "Yaudah entar guwe ke warnet deh nge-print,"kata Jali.

Aku pun teringat sesuatu. "Oh iya, ini lo kemarin ngeprint dimana?"tanyaku sambil menunjuk prit out makalah. "Di rumah Cella, kan lu yang nyuruh guwe ke sana, Mar,"jawab Jali. "Ketemu tuh rumahnya si Cella?"tanyaku lagi. "Iyalah, lu ngarang ah rumahnya kaga ketemu apalah... Orang guwe begitu masuk itu blok langsung ketemu, hu!"kata Jali. "Aneh... Guwe tanggal 18 ke sana kaga ada itu rumah. Beneran!"kataku meyakinkan. "Udah lah, Mar. Yang penting tu tugas cepet beres biar guwe bisa tenang-tenang,"ucap Jali kemudian. "Yaudah, sekarang kita ke Cella aja buat ngeprint. Biar ngga keluar uang juga kitanya,"usulku. Jali pun mengangguk mantap.

Memasuki Perumahan Kabut aku langsung menuju jalan yang 2 hari lalu aku lewati. Aneh! Lagi-lagi aku tidak menemukan rumah Cella. Rumah di Blok D37. Yang kudapati hanya nomor genap seperti kemarin lusa. "Gimana, Jal? Ketemu kaga lo rumah si Cella?"tanyaku setengah mengejek karena dia sempat tidak percaya padaku. "Iya ya. Guwe yakin kemarin tuh rumah dia di sini. Rumahnya warna ungu, gede banget. Dia cuma tinggal sama ibunya. Dia juga bilang pembantunya cuma dateng seminggu 3 kali di hari ganjil. Aneh dah!"cerocos Jali.

Setelah memutari blok itu 3 kali. Kami putuskan untuk bertanya pada seorang wanita yang kebetulan keluar dari rumah nomor E38 untuk buang sampah. "Misi bu, mau tanya. Rumah D37 dimana ya?"tanya Jali. Ibu itu mengernyitkan dahinya sebentar lalu berkata,"Oh, nomor D37 nggak ada mas," Kemudian ibu itu segera masuk ke dalam rumahnya. "Ni perumahan bikin guwe gila deh. Masa ama tetangga sendiri kaga tau. Nyerah dah guwe. Kita balik sekolah aja ya Jal!". Jali hanya pasrah mengiyakan.

Tanggal 21, liburan telah usai. Semua siswa masuk seperti biasa. Aku dan Jali pun datang dengan perasaan dongkol gara-gara kejadian 'Mencari Rumah Cella'. Kami langsung menceritakan hal aneh yang kami alami ke teman-teman sekelompok kami. Kebetulan Cella belum datang. Selesai cerita, aku mendapat tanggapan "Masa sih, Mar?" yang tak henti-hentinya. "Kalo lo nggak percaya sama Damar, kita interogasi aja si Cella waktu istirahat pertama. Guwe saksinya,"kata Jali.

Istirahat pertama, aku dan yang lainnya mendatangi bangku Cella. "Heh Cel! Coba jelasin ke kita kenapa rumah lo nggak ada pas tanggalnya genap? Kita kemarin tuh cape-cape nyariin rumah lo tau! Apalagi si Damar, dia udah 2 kali ke rumah lo tapi nggak nemu-nemu. Maksud lo apa?!"semprot Jali sambil melempar makalah Biologi. Cella mengernyitkan dahi, heran. "Makalah kita nggak jadi-jadi nih!"celetuk Yuni. "Maaf ya temen-temen... Aku nggak bisa jelasin di sini. Kalau mau kerjain makalah di rumahku, nanti bisa kok langsung ke rumahku. Aku ceritain semuanya nanti,"kata Cella memelas. Akupun memandang yang lain lalu mengangguk.

Pulang sekolah, aku dan temanku sedikit mengganggu penghuni Perumahan Kabut akibat suara knalpot motor yang kami kendarai. Ini gara-gara rumah Cella yang cuma ada di tanggal ganjil itu! Sesampainya di ujung blok rumah Cella, aku saling beratatapan dengan yang lain.

Blok D37

Rumah itu ada! Rumah Cella. Rumah bercat ungu dan sangat besar seperti apa yang dikatakan Jali. Cella pun langsung mengajak kami masuk dan mengerjakan revisi makalah. Kami lupa akan rasa kesal karena rumah Cella yang kemarin tidak ketemu. Marga yang tiba-tiba teringat ketika kami akan pulang.

"Cel, guwe mau tanya. Kenapa rumah lo adanya waktu tanggal ganjil? Apa karena rumah lo nomornya ganjil?". "Hm...masalah itu ya. Sebenarnya ini perumahan yang direkomendasikan nenek aku sebelum pindah ke sini. Jadi, karena Mama profesinya sebagai jabatan inti, banyak data rahasia perusahaan yang Mama pegang. Waktu mau pindah Mama bilang katanya rumah yang akan kita tempati sedikit berbeda. Rumahnya sangat aman, namun aku harus terbiasa. Begitu pindah aku heran karena tetanggaku hanya dari rumah-rumah yang bernomor ganjil sama seperti rumahku. Dan aku tidak menemukan nomor genap di deretan blok rumahku. Lama kelamaan aku pun tahu tentang perumahan ini. Jadi, setiap tanggal genap maka blok A-H yang muncul adalah rumah bernomor genap, sedangkan I-S rumah bernomor ganjil. Sebaliknya, setiap tanggal ganjil maka A-H yang muncul adalah rumah bernomor ganjil, dan I-S rumah bernomor genap. Semua rumah nomor berapapun di blok manapun akan muncul bersamaan saat mendekati masa bulan purnama. Dan sebenarnya rumahku tidak hilang saat tanggal genap, hanya saja ada kabut tebal yang menutupi dan tidak bisa dilihat jika kalian tidak berulang tahun saat itu. Ini juga jadi alasan kenapa aku punya pembantu yang datangnya cuma di tanggal ganjil. Oh iya, dan yang homeschooling itu aku berhenti karena tentor pelajaran kesukaanku keseringan bisa di tanggal genap, dia keseringan bingung cari rumahku. Yaudah akhirnya aku minta sekolah umum aja, "kata Cella panjang lebar.

Kami pun mengangguk-ngangguk mengerti. "Pantes deh kemarin kita tanya sama ibu-ibu di nomor E38 yang kebetulan keluar rumah buat buang sampah, dia bilang nggak ada rumah nomor D37. Berarti setiap tetangga nggak saling kenal ya?"tanya Jali. "Kita di sini bertetangga seperti perumahan biasa kok. Kami juga pasti tau sama penghuni rumah satu deretan blok ini. Tapi, rumah E38 itu udah hampir 3 tahun nggak ditempati lho, kalian yakin ada orang yang keluar dari situ?"Cella balik bertanya. "Terus ibu-ibu yang kita jumpain kemarin itu siapa?"tanyaku.

Kami semua saling beratatapan, termasuk Cella yang langsung diam mematung....

Comments

back to top