Hal-Hal Baru di Ramadhan dan Idul Fitri Tahun Ini (2021)


Taqabballahu minna wa minkum. Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Kurang lebih seperti itulah kalimat yang aku terima dan kirimkan dari teman dan keluarga dekat. Alhamdulillah, lebaran tahun ini bisa sedikit lebih berbahagia dari tahun 2020. Tahun lalu, aku dan kakak perempuanku masih stay di Bandung, di salah satu rumah teman Umi yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Kami berdua belum bisa pulang karena pandemi Covid-19 sedang tinggi-tingginya dan aku juga masih harus menyelesaikan Tugas Akhir. 

Tahun ini, suasana lebaran berbeda dari tahun kemarin. Selain semua personil keluarga bisa berkumpul, aku juga mendapatkan hal-hal baru selama berpuasa dan merayakan lebaran di rumah. 

* * *

1. Buka puasa bersama teman SMA

Senja Cafe Jember
Ayu Chinintya, Aku, Detha

Sekitar setahun lebih aku belum bisa bertemu dengan teman SMA. Jadwal kita sudah berbeda. Beberapa terpisah jarak di luar kota dan sebagian punya kesibukan sendiri. Namun, aku mencoba meluangkan waktuku untuk bertemu di tengah jadwal kita masing-masing.

Alhamdulillah, aku bisa buka puasa bersama Ayu Chinintya dan Detha. Kita sedikit bernostalgia dan membicarakan hidup yang mulai lucu di umur 23 tahun ini. Kita ngomongin tentang jodoh, pergaulan-pergaulan di perkantoran, kelucuan dalam lingkungan kantor, membicarakan pendidikan, teman kita yang dulu begini sekarang sudah menjadi begitu, dan ngomongin tentang bagaimana pertemanan kita semakin lama semakin mengecil. 

Senja Cafe Jember
Senja Cafe Jember

Kita berbuka puasa di salah satu kafe yang pingin banget aku kunjungin dari awal pulang ke Jember, yaitu Senja. Menurutku, kafe ini pilihan yang tepat untuk dijadikan tempat pertemuan teman-teman lama. Nuansa kafenya cozy, tersedia ruang indoor dan outdoor dengan pemandangan persawahan.

Senja Cafe Jember
Lantai 2 Senja Cafe Jember



Senja Cafe Jember
Indoor Non-Smoking



Senja Cafe Jember
Indoor Non-Smoking



Senja Cafe Jember Review
Ayam Geprek, Nasi Goreng



Senja Cafe Jember Review
Senja Berry Milk + Free takjil



Senja Cafe Jember Review
Tersedia masjid



Senja Cafe Jember Review
Tempat parkir luas


Hari semakin malam, kita pun mencukupkan pertemuan di jam 8. Sebenarnya masih kurang pertemuan saat itu hanya sekitar 2 - 3 jam. Tapi, setidaknya kita telah bertegur sapa dan bercerita. Kita juga menyempatkan waktu untuk merasa, walaupun pertemanan kita semakin lama semakin kecil, kita tetap punya teman yang nyambung diajak ngomong.

Senja Cafe Jember
Jl. Merak No.789, Kedawung Kidul, Gebang,
Kec. Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68117
Menu start Rp10.000,- (Klik untuk lihat Menu)


2. Memasak dimsum dan chilli oil untuk keluarga

Dimsum + chilli oil

Waktu aku masih di Bandung bulan Februari - Maret 2021, Lulu sempat nginap di kos dan mengajak aku untuk membeli dimsum. Aku bukan seorang yang suka banget makan dimsum karena aku pikir rasanya mirip dengan siomay, bentuknya saja yang berbeda.

Well, memang beberapa dimsum ada yang dibuat seperti itu. Mungkin karena beda tangan, beda rasa. Di hari itu, aku menemani Lulu membeli dimsum di DU Dimsum, Dipatiukur. Aku nggak berminat untuk nyicipin sampai besok siangnya, aku ada technical meeting dan itu lumayan lama. Aku belum makan siang saat itu dan Lulu lagi makan sisa dimsum yang dia beli semalam. Karena lapar (banget), aku minta sedikit ke Lulu dimsum dan chilli oil-nya. Turned out, dimsumnya enak!

Begitu pulang ke Jember, aku mulai coba bikin dimsum tanpa chilli oil. Orang-orang di rumah pada suka. Happiest thing after cooking itu ketika aku bisa served my cooks and everyone love it! Aku pun bertekad untuk bikin lagi di bulan puasa sebagai snack.

Ready for dimsum party


Homemade chilli oil

Cabe bubuk via Shopee

Aku coba beli cabai kering di e-commerce karena aku nggak menemukan cabai kering di Jember. Aku mulai membuat dimsum lagi beserta chilli oil-nya. Rasanya jadi combo 🔥 Wah, serendipity-ku semakin bertambah-tambah!

Resep Chilli Oil aku ikutin dari YouTube Wilgoz karena gampang dan cepet. Resepnya aku modifikasi sedikit. Aku nggak pakai ebi dan nggak pakai Chilita. Chilita cukup aku ganti dengan garam dan kaldu jamur.

RESEP CHILI OIL - BUMBU SERBA GUNA ANDALANQU


3. Made my first self-sewn cloth!

Me with Baju Psikotest

By the way, ini bukan salah satu ideku. Kalau bisa dibilang, poin ketiga ini adalah challenge dari ayahku. Ceritanya, di suatu siang, H-10 Idul Fitri, ayahku manggil adikku untuk beli kain. Aku pun nemenin adikku untuk beli kain. Sepulangnya ke rumah, adikku ngasih tahu kalau kain yang tadi dibeli untuk baju Hari Raya dan kita jahit sendiri.

Me being zero was like "what?" But, because this was my dad's command, aku pun oke-in saja. Ternyata, ayahku sudah beli pola untuk cetak baju dari e-commerce. Aku cukup impressive sih karena aku dan adikku nggak perlu bikin baju dari zero scratch.

Pola baju di Tokopedia

Aku pun mulai menjiplak pola ke kain pilihanku yang bermotif tulip-tulip kecil (dibantu ibuku). Sekitar seminggu kemudian, aku baru lanjut ngobras dan jahitin bajuku. Yes, akungebut nyelesaiin bajuku dalam 3 hari sebelum Idul Fitri karena aku bener-bener pingin banget lebaran kali ini spesial, yaitu dengan pakai baju jahitan tanganku sendiri.

Jiplak pola baju

Kata ibuku bagian paling susah itu pas jahit lengan, tapi menurutku nggak juga

Ada hal lucu begitu aku ingin benerin salah satu bagian bajuku. Aku baru sadar kalau pattern di bajuku itu nggak konsisten antara lengan kanan, badan bagian depan dan belakang, lengan kiri, sama rempel. Pattern bunga kecilnya ada yang menghadap ke atas dan ke bawah. Aku pun akhirnya menamakan baju ini dengan 'Baju Psikotest' karena butuh ketelitian kalau besok-besok harus berhadapan dengan kain bermotif sangat kecil seperti ini lagi.

Jahit pinggiran rempel biar nggak berudul


Lengan kanan: Motif bunga bagian lengan mengahadap bawah, motif di rempel menghadap atas


Bagian depan: Motif bunga bagian badan mengahadap bawah, motif di rempel menghadap atas


Lengan kiri: Motif bunga bagian lengan mengahadap atas, motif di rempel menghadap atas

Walaupun ada sedikit kesalahan (atau banyak?), untung motif bunganya kecil-kecil, jadi nggak begitu kelihatan dari jauh. Alhamdulillah, bajuku siap pakai saat Idul Fitri.

Baju Psikotest is my first trial

* * *

Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini cukup bisa membuat aku semakin bersyukur. Sesederhana aku bisa bertemu dengan teman-teman dan berkumpul lengkap dengan keluargaku. Aku pernah ada di saat jauh dari keluarga dan menghadapi puasa sendirian itu nggak enak. Tapi, life goes on. Jika memang harus jauh dari keluarga bisa jadi pembelajaran hidup biar kita semakin strong. I keep it here to remain that if someday I lived far away from my family, I know that I'm not alone. So are you.

Comments

  1. Keren banget kak bisa jahit baju sendiri. Aku kalau pake mesin jahit aja suka maju mundur nggak jelas, jadilah benangnya kusut nggak bisa buat ngejahit hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Kak. Sebenernya aku masih newbie menjahit 😀 Rasanya susah-susah gampang kaya pas belajar masak. Tinggal gimana kreatifnya kita bikin pattern dan fokus ngejahitnya. Dicoba aja kak buat belajar jahit, nanti ketagihan. Apalagi kalau kain yang dipakai bagus 😄

      Delete

Post a Comment

back to top