Satu-Satunya Teman yang Menangis

  Assalamualaikum...
  Siang tadi aku ada pertemuan. Sempat mengikuti sedikit materi yang disampaikan pada salah satu sesinya. Ada seseorang, sebut saja Ibu A sebagai pembicara (karena aku gatau nama aslinya) bercerita tentang seorang sahabat beliau ketika SMA.
  ------
   Saat SMA dulu, saya memiliki seorang sahabat yang duduk satu bangku. Sahabat saya ini (anggap aja namanya E) kalau sekolah berjilbab, namun ketika di luar lingkungan sekolah ia lepas jilbabnya. Suatu hari, kami saling berdialog, dan tersepakatilah sebuah perjanjian,"Kamu kalau di depanku harus pakai jilbab," kata saya.
   Kami sering bertemu. Kami sama-sama mengikuti OSIS. Pernah suatu ketika, teman satu OSIS ditelepon sama E. Dia tanya,"Si A datang ngga? Kalau ada si A aku mau bekal kerudung." Aku pun tertawa mendengarnya. Orang lain biasanya bekal makanan, ini kok malah bekal kerudung.
   Waktu pun berlalu. Saya kemudian berkuliah di UPI. Saya dikenal sebagai orang yang saklek karena hijab yang saya kenakan panjang. Hijab panjang saat itu belum bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat. Tidak seperti zaman sekarang. Jadi, orang-orang kampus terbiasa dengan melihat saya, seorang wanita berkerudung panjang yang kalau jalan keseringan nunduk.
   Ketika sedang berjalan menuju masjid kampus, saya yang terbiasa menatap ke bawah ini dikejutkan dengan seorang cewek tak berkerudung melompat ke depan saya. Yang bikin saya kaget bukan karena lompatan tiba-tibanya di depan saya, namun cewek itu sahabat sebangku saya ketika SMA.
   "Astagfirullahaladziimmm,"spontan saya berkata begitu. Nggak tahu kenapa, tubuh ini langsung lemas, jatuh terduduk. Saya langsung menangis. Ini beneran nggak tahu kenapa. Saya melihat sahabat yang dulu pernah sepakat berjanji untuk berkerudung di depan saya, kini telah melepas jilbabnya di hadapan saya. Orang-orang sekitar otomatis langsung menatap ke arah kami, ingin tahu ada apa. Saya tetap menangis sejadi-jadinya.
  Saya bilang pada E,"E, padahal dulu kita udah sepakat kalau di depanku kamu harus pakai kerudung. Kenapa sekarang kamu malah menampakkan rambutmu di depanku?" . Agak drama memang. Tapi, itulah yang benar-benar terjadi. Saya bilang sekali lagi, saya nggak tahu kenapa bisa sampai sesedih itu.
   "Ternyata aku memang nggak bisa paksa kamu untuk memakai kerudung. Maaf ya. Kalau memang ini pilihanmu, aku hargai. Kamu tetap temanku,"kataku lalu pergi.

Sumber: http://saudibeautyblog.com/wp-content/uploads/2014/11/Untitled-17-660x400.jpg

   Setahun setelah drama itu terjadi, aku mendapatkan sebuah surat berisi puisi. Surat yang kudapatkan ternyata dari si E. Salah satu kalimat yang kuingat ada di surat itu adalah,

"Terima kasih, A. Kamu yang mengajarkan aku tentang jilbab. Kamu satu-satunya temanku yang menangis ketika tahu aku melepas kerudung, disaat teman-temanku yang lain bersorak ketika aku melepasnya. Aku sempat banyak mendapat banyak pujian saat itu. 'Kamu cantik ya ternyata kalau ga pakai kerudung' .  Dan kamulah yang mengembalikanku untuk berkerudung akibat kejadian setahun lalu."

------
  Ini kisah nyata yang begitu pembicara ceritakan aku sempat bergetar. Aku pernah mengalami kejadian serupa dalam topik yang berbeda. Namun, aku tak sehebat Ibu E yang dapat mengembalikan teman dekatku menuju jalan yang benar.
   Persahabatan antar hati ke hati itu lebih terasa, dibandingkan persahabatan memakai logika. Kenapa? Karena jika persahabatan memakai logika, maka persahabatan tersebut akan terganti pula  seiring dengan datangnya logika baru.
   Semoga dari kisah nyata ini dapat diambil pelajaran bahwa pertemanan itu sama-sama yang membawa kepada kebaikan. Gunakan hati untuk saling memahami.
   Sekian posting kali ini, dannn wassalam :)

Comments

back to top