Hijab



Assalamualaikum,

Kamis, 9 November 2017 .

Saya berkumpul bersama teman-teman di perpustakaan. Sebelum masuk ke acara inti, seperti biasa, salah satu dari kami menyampaikan materi. Kali ini, teman saya bernama -sebut saja- Amalia sempat bingung ingin menyampaikan apa. Akhirnya, berbagilah dia tetang kisah awal mula bagimana ia memutuskan untuk berhijab.

Dulu ketika SMA (saat cerita diketik, sumber kisah duduk di bangku perkuliahan) , Amalia ini suka sekali jalan-jalan seperti ABG pada umumnya. Amalia memiliki seorang teman perempuan yang sangat dekat dengannya, sebut saja Putri. Putri merupakan murid anggota rohis, berhijab, dan feminin.

Dari kedekatan di sekolah, Amalia dan Putri pun sering pergi bareng. Karena sering jalan-jalan bersama teman dekat lainnya juga, mereka pun membuat kesepakatan: Setiap keluar bareng harus menggunakan hijab! Tidak menggunakan hijab, maka anak tersebut harus mentraktir makan setiap teman-temannya. 

Amalia berfikir, "Ah daripada uang gue habis mending gue pakai hijab aja." Begitu menggunakan hijab, teman-teman pun mengatakan bahwa Amalia terlihat lebih cantik. Ada perasaan semangat dalam diri Amalia untuk terus menggunakan hijab. Namun, saat itu belum terlaksana. Baru niat saja.

Beberapa orang terdekat sudah sering mengingatkan Amalia untuk berhijab, namun namanya anak muda, peringatan seperti itu cuma masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. "Makin gue diingetin, makin jengahlah gue. Rasanya bosen kan kalau kitanya ngga mau tapi diomongin terus,"kata Amalia.

Suatu hari jelang pasca kelulusan SMA, Amalia mendapat pengalaman kurang mengenakkan ketika di parkiran motor di suatu tempat. Ia sedang tidak mengenakan hijab saat itu. Ada seorang tukang parkir mencolek lengannya.  Dari pengalaman tersebut membuat Amalia berfikir mungkin saat itu pakaiannya lah yang membuatnya tidak aman. Kejadian tak terduga itu akhirnya membuat Amalia memutuskan untuk berhijab secepat mungkin.

Setelah sekian bulan menjalani aktivitas perkuliahan dengan berhijab, Amalia pun memang merasa kan perbedaan seperti banyak perempuan lain bilang. Ia merasa lebih nyaman, tertutup, dan tidak lagi melulu menjadi pusat perhatian laki-laki.

Alhamdulillah, lingkungan pun mendukung Amalia untuk berhijab. Perubahan lain yang dirasakan oleh teman saya ini adalah dia mulai tidak ke beberapa tempat yang dulu ia kunjungi. 

"Iya gengs, jadi gue tuh baru berhijab kuliah ini kok. Jadi, maaf banget kalau hijab gue kurang sempurna,"tutup Amalia.



Masyaallah. Kisah ini menginspirasi saya banget. Berawal dari sebuah kesederhanaan: teman dekat yang sering pergi bareng hingga akhirnya secara tidak langsung mengajak teman lainnya untuk berhijab. Tidak ada tindakan menggurui, memaksa, dan lainnya.

Terkadang Allah memang memilih hambaNya yang bersungguh-sungguh untuk diberikan hidayah. Amalia mungkin pada awalnya jengah ketika diperingatkan untuk memakai hijab oleh orang-orang dekatnya. Namun, keinginan untuk memakai hijab itu ada. Cara saja yang kurang sesuai dengan kondisi Amalia saat itu. Sampai akhirnya Allah memberikan sahabat yang mampu merubahnya. Allah berikan pengalaman kurang mengenakkan hingga Amalia pun melaksanakan keinginannya untuk berhijab.

Saya doakan teman-teman yang belum berhijab, baru berhijab, sudah berhijab, sudah berhijab namun masih merasa belum terbiasa, sudah berhijab namun merasa hijabnya belum baik, sudah berhijab secara baik dan benar namun merasa akhlaknya belum sempurna, semua yang berhijab saya doakan bisa istiqomah. Saya berhijab dan saya merasa hijab saya belum baik dan benar. Saya juga selalu berusaha untuk istiqomah. Kita sama-sama manusia, punya kekurangan. Saling mengingatkan dan tetap bersemangat untuk melakukan kebaikan. Karena Islam itu mengajak bukan mengejek :)

Wassalam <3

Comments

back to top