How I Survive in 5th Semester of College

Sumber: pinimg

Membagi fokus antara kuliah, UKM, Lab, dan freelance

YASH, I'M FREE!

Itu impresi pertama begitu aku menginjakkan kaki kembali ke kampung halaman. Hari Kamis, 25 Desember 2018 , aku merasa bisa menarik nafas sebanyak-banyaknya sebebas-bebasnya. Aku selesai melewati Semester 5 ! Nggak nyangka. Aku sempat terseok-seok di pertengahan Semester 5 karena begitu banyak tugas dan organisasi serta agenda-agenda yang mengikuti. Berkali-kali aku telefon kedua orang tua untuk mengeluarkan keluh-kesah. Kelihatannya anak mama banget ya kalo dikit-dikit hubungi orang tua. Tapi, itu caraku biar termotivasi ngerjain tugas-tugas.

Semester 5 kemarin, aku ikut UKM Central Computer Improvement, Laboratorium SISJAR, freelance, dan tentunya fokus perkuliahan dengan 5 mata kuliah serta  — alhamdulillah- 3 praktikum setiap minggunya (6 modul) . Untungnya nih praktikum Semester 5 nggak sebanyak Semester 4 yang praktikumnya sampe 5 praktikum. Bener-bener ngos-ngosan. Selesai kuliah, praktikum, malamnya agenda lab atau mungkin jaga praktikum. Kalau malamnya ngga ada agenda lab, bisa jadi ada rapat UKM.

It was tiring. Tapi, aku ambil positifnya aja. Semakin sering ketemu teman-teman, aku bisa sharing tugas-tugas kuliah, saling berkeluh-kesah, dapetin cerita-cerita baru. Jadinya aku bisa makin semangat untuk kuliah (lebih tepatnya biar ga skip kuliah kebesokannya) . 

Alhamdulillah, hasil akhir yang kudapat nggak seburuk yang aku perkirakan. IPK-ku turun, namun nggak begitu anjlok kaya Semester 4 kemarin. IPK masih dalam keadaan aman. Aku juga bisa cukup stabil menjaga kesehatan. Pernah beberapa kali sakit, namun sekadar sehari-empat hari karena demam, kehujanan.

Kalau sebagian dari teman-teman mungkin membutuhkan tips gimana caraku bisa survive di Semester 5 — yang katanya lagi masa padat-padatnya kuliah, sebenarnya tipsnya sesederhana ini:

1. Tentukan target / wishlist / apapun itu yang kamu inginkan

Banyak orang bilang, ibarat mengendarai sepeda, kita harus tau tujuannya mau ke mana. Aku sebenarnya bukan tipe yang suka nyusun target secara spesifik (re: mager) , tapi aku pernah dapat tugas Kewirausahaan di Semester 3 , dimana tugasnya adalah tiap mahasiswa bikin buku mimpi (Dream Book) . Nantinya buku itu diisi dengan mimpi-mimpi kita untuk sepuluh tahun mendatang.

Aku masih simpan buku itu. Buku yang akhirnya ga aku kumpulin karena ketika waktunya ngumpulin aku skip buat datang ke Tech In Asia 2017. (Sorry, Sir. But, thanks. You were so kind at that time)

Aku gatau harus ngelakuin apa di tahun 2018 khususnya di Semester 5 kemarin. Aku buka-buka lagi Dream Book yang sudah kubikin. Berharap dengan buka-buka buku itu aku bisa menemukan motivasi. 

Nah, ketika melihat-lihat Dream Book pada bagian tahun 2017 , beberapa mimpi sudah aku wujudkan. Aku jadi merasa sedikit terpacu untuk ambil langkah mewujudkan mimpi-mimpi berikutnya. Seru gitu lho, ketika secara nggak sadar kamu tiba-tiba ada di hari dimana kamu sudah mendapat apa yang kamu inginkan.

2. Penghargaan dari kamu untuk kamu

Akan selalu ada momen dimana aku sedang banyak tugas, deadline tinggal beberapa hari bahkan tinggal beberapa jam lagi, tapi rasa malas tuh nempel terus bikin jadi menunda-nunda pekerjaan. 

Menunda-nunda pekerjaan dan malas itu emang penyakit banget. Satu-satunya caraku untuk ngelawannya adalah dengan mengiming-imingi diri dengan sebuah kebahagiaan #yak. Beneran lho. Selain membahagiakan orang lain, aku juga suka membahagiakan diri sendiri. Kenapa? Karena orang yang bisa ngebahagiain aku belum ditemukan. Yhaaa…Back to topic.

Ngebahagiain diri sendiri maksudnya gimana?

Gini, gini. Ada masanya aku tuh jenuh karena kebanyakan tugas, kurang main, homesick, apalagi misal ada tugas dan deadline-nya beberapa jam lagi. Aku selalu mencoba menghibur diri dengan bilang ke diri sendiri kaya, “Kerjain aja dulu, Nas. Nanti habis ngerjain, kamu bisa makan es krim. Dua es krim deh gapapa,” atau mungkin “Gapapa minggu ini kamu ga main ke mana-mana. Kamu bisa nonton film seharian Minggu besok. Yang penting tugasnya selesaiin aja dulu.”

Ya, sesederhana itu. Bagiku, it works. Aku ngerasa begadangku, pinggang-pinggangku yang pegal, bakal terbayar dengan iming-iming yang aku bikin sendiri.

3. Temukan motivasi dari hal-hal yang kamu suka

MOTIVASI.

Aku salah satu tipe orang yang haus banget akan motivasi. Mungkin beberapa temen atau kating suka kutanyain secara tiba-tiba kaya, “Kak, cara kakak ngelepas stress gimana?” atau “Cara lu atur jadwal gimana sih? Kayanya terorganisir banget." Pertanyaan semacam itu suka aku tanyain ketika aku ngerasa kuliahku kayanya lagi ngga mulus nih, aku lagi sering males, atau aku lagi gaada semangat untuk buka materi kuliah padahal besok kuis.

Selain tanya-tanya gajelas (dengan tujuan untuk memperjelas hidupku) , karena aku suka banget baca buku, aku usahain selalu baca atau stok novel yang sekiranya bisa menambah semangatku. Dengan membaca novel, apalagi yang Sains-Fiksi gitu, aku bakal ngerasa terpicu dari alur cerita novel. Entah gimana, aku bakal semangat lagi buat kuliah atau belajar.

Novel juga jadi salah satu iming-iming kebahagiaan buatku. Karena, kalau lagi malas-malasan atau secara tiba-tiba ngerasa kehidupan orang lain lebih baik dari aku, aku bakal reminder diri sendiri. 

“Inget, Nas. Ria SW dulu juga pernah kuliah, udah pernah ngalamin hal-hal yang lebih pait dari kamu,”
“Inget, Nas. Wirda bisa sehebat kaya gitu karena perjuangannya juga ga main-main. Kalau kamu mau kaya gitu, stop lihat orang lain (dari sisi bahagianya aja) dan coba berjuang dengan caramu.”

Yeah, dibalik kesuksesan seseorang pasti ada perjuangan dan pengorbanan.

Intinya, temukan motivasi dari hal-hal yang kamu suka. Aku suka baca, jadinya aku mencoba menemukan bacaan yang bisa mentrigger, yang bisa menjadi pemicuku untuk terus semangat menjalani kehidupan. 

4. Luangkan waktu untuk diri sendiri

Kalo luangkan waktu untuk diri sendiri sih kayanya udah rutinitas, karena.aku.orangnya.alone.alias.ahsudahlah. 

#ga

Nih, ada puisi bagus. Saking bagusnya, ga kukasih judul.

Ehem.
1
2
3
.
Ada waktunya aku butuh sendiri. 
Karena bertemu dengan orang lain kadang juga perlu energi. 
Sedangkan sebagai anak kos, ku hanya sarapan Indomie
.
Tamat

#ga

Ada sebuah penelitian yang dipimpin oleh Dr. Olaf Kruse dimana penelitian tersebut tentang tanaman yang menyerap energi dari tanaman lain, begitupun manusia yang menyerap energi dari manusia lain. Kata Prof. Kruse, “...beberapa orang merasa tidak nyaman jika berada dalam kelompok tertentu, di mana ada perpaduan antara energi dan emosi.”

Iya, jadi ketika aku ngerasa sangat lelah, aku butuh waktu untuk sendiri. Tidur di kamar, pakai selimut. Enak. But sleep everywhere is ok for me Tujuannya supaya ketika moodku kurang baik maka ga akan pengaruh ke orang lain. Selain itu, waktu untuk diri sendiri itu perlu untuk intropesi diri dan break dari segala interverensi yang mungkin terjadi. #berat

5. Kalo udah ngerasa pingin nyerah, mungkin doa satu-satunya jalan keluar

When life give you lemons,
take a deep breath
Take a wudhu
Read Quran

When life give you lemons,
take a deep breath
Take a wudhu
Pray

When life give you lemons,
take a deep breath
Make lemonades
Then sell them
If you have zero experience about selling lemonades
That's your problem
*peace

Doa. Kedengarannya sekata doang, dibaca juga sekata, ditulis juga sekata. Tapi, kalo mau ceritain kehebatan doa bakal lebih dari satu kata. Doaku kadang terlalu sederhana, 

"Ya Allah, jadikan hari ini hari yang baik. Tumbuhkan semangatku untuk menjalani hari ini."

Tentang kehebatan doa, kebanyakan tentang caraku mengisi perut. Sering banget di akhir bulan, ketika duit sangu udah mau habis, ada aja caraku bisa makan gratis. Entah itu dapat dari acara organisasi atau dikasih temen. Pernah waktu itu aku lagi laper banget. Terus datang acara organisasi dimana konsumsinya ternyata sisa banyak banget karena sebagian besar anggotanya gabisa datang, bentrok dengan kelas. Salah satu panitianya bilang, "Ambil aja yang banyak. Daripada mubazir," Itu surga banget bagi perut aing yang sudah berteriak-teriak manja. Aku pun ambil tiga kotak. Makasih yha maz yang waktu itu bilang, "Ambil aja yang banyak," pas aku ambil 3 kotak u malah kaget terheran-heran w rakus abis.

Selain cerita tentang mengisi perut, ada lagi tentang UTS. Pernah menjelang UTS, ada mata kuliah yang susah banget karena banyak teori. Mana aku tiap matkul tersebut sering tidur karena jadwalnya pada jam-jam ngantuk (jam 13:30 - 16:00) . Belajar materi beberapa hari sebelum UTS. Aku cuma bisa doa semoga matkul ini hasilnya ga buruk-buruk amat. Aku coba ikhtiar dengan ikut responsi, coba ngerjain soal, dan waktu UTS aku berasa bodoamat aja. Aku ga sempat ngoreksi ulang karena waktu pengerjaanku tepat sama waktu UTS-nya berakhir. Beberapa minggu kemudian, dosen nampilin nilai. Terus, aku terheran-heran gitu kok nilai bisa diatas ekspektasi ya?

Temen juga pernah tanya gimana caraku ngatur waktu sampai-sampai masih sempat nyuci dan setrika sendiri (akhir-akhirnya laundry juga tapi wkwk) . Aku cuma bisa bilang seimbangin antara akhirat sama dunia aja. Kalo akhirat kekejar, dunia mengikuti. Klasik, but trust me; it really work! 


Secara garis besar, lima poin itu yang membantuku untuk bertahan di Semester 5 kemarin. Selain lima poin di atas, dukungan dari teman dekat dan orang tua juga sangat membantu. Aku berusaha untuk lebih banyak menanamkan energi positif biar bisa terus optimis. Stress itu ada, aku juga ngalamin selama survive di Semester 5 . Cara untuk mengatasinya aku selalu cerita apapun yang sekiranya jadi beban ke orang tua, minta pendapat baiknya gimana, ke beberapa teman juga aku minta saran. Dan, kesehatan. Aku coba sebisa mungkin hindari fast food dan mie instan.  Belajar dari pengalaman; sakit dan jauh dari rumah itu nggak enak. Jadi, sebisa mungkin makan-makanan rumahan beli di warteg. 

Segitu dulu dari aku. Semoga bisa membantu teman-teman yang akan menerjang arus perkuliahan. Tetap semangat and do your best

Comments

back to top